Polisi Selidiki Dugaan Pengeroyokan saat Warga Protes Petasan Maulid di Jaksel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 09:36
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Tangkapan layar petasan yang dinyalakan selama satu jam saat perayaan Maulid Nabi di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Senin, 5 Oktober 2026. Tangkapan layar petasan yang dinyalakan selama satu jam saat perayaan Maulid Nabi di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Senin, 5 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Polda Metro Jaya tengah menyelidiki kasus dugaan pengeroyokan dan penganiayaan yang dilaporkan terjadi setelah seorang warga mempertanyakan penggunaan petasan dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jalan Keramat 2, Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto mengatakan penyidik telah meminta keterangan sejumlah saksi, memeriksa barang bukti, serta melakukan pengecekan dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

"Saat ini sedang ditangani, dilakukan penyelidikan, pemeriksaan beberapa keterangan saksi dan barang bukti, juga melakukan pengecekan olah tempat kejadian peristiwa," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.

Budi membenarkan laporan tersebut telah diterima Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan itu diajukan oleh seorang warga berinisial LK.

Baca Juga: Warga Pondok Pinang Laporkan Kericuhan Petasan Acara Maulid di Jaksel ke Polisi

"Laporan dugaan pengeroyokan dan atau penganiayaan berdasarkan LP/B/4008 tanggal 5 Oktober 2024 atas pelapor saudari LK. Peristiwa terjadi 4 Oktober 2024 sekira pukul 12.45 WIB di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan," ujar Budi.

Menurut Budi, dalam laporan tersebut LK mengaku mengalami kekerasan setelah mempertanyakan suara petasan yang berasal dari lokasi kegiatan.

"Berdasarkan keterangan pelapor, kejadian bermula saat yang bersangkutan mempertanyakan suara petasan dari lokasi kegiatan. Pelapor kemudian mengaku mengalami tindakan kekerasan oleh sejumlah orang," tutur Budi.

Sebelumnya, warga Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengeluhkan suara petasan dan kembang api dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul. Suara tersebut dinilai mengganggu anak Amanda Andono (50) yang memiliki kebutuhan khusus.

Baca Juga: Protes Petasan Berujung Kekerasan, Warga Pondok Pinang Lapor Polisi

"Anak saya sampai bangun. Anak saya sampai sampai kaget dan kejang. Saya cuma mikirnya anak dan orang tua saya aja," kata warga bernama Amanda Andono (50) kepada wartawan di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Amanda menyebut dentuman kembang api terdengar sangat keras dan berlangsung terus-menerus. Menurut dia, suara tersebut berbeda dari kembang api yang lazim digunakan dalam kegiatan lainnya.

“Ini benar-benar dentuman. Tidak selesai-selesai,” ujar Amanda.

Ia mengatakan suara keras itu berdampak pada anaknya yang memiliki kebutuhan khusus dan sensitif terhadap suara. Anaknya disebut terbangun, terkejut, hingga mengalami kejang setelah mendengar dentuman tersebut.

Selain mengkhawatirkan kondisi anaknya, Amanda juga memikirkan ibunya yang berusia 76 tahun. Karena suara petasan tidak kunjung berhenti, ia memutuskan mendatangi lokasi acara untuk meminta penjelasan kepada pihak penyelenggara.

"Sampai di menit ke-15, belum juga berhenti. Jadi, akhirnya saya langsung keluar, tuh. Saya langsung keluar, saya enggak peduli ini mau gimana-bagaimana, tapi ini enggak bener," ucap Amanda.

Amanda mengaku kesulitan menemui panitia acara. Ia juga menyebut mengalami tindakan fisik ketika berusaha meminta dipertemukan dengan penyelenggara.

Menurut pengakuannya, sejumlah orang mendorong dan menariknya, menyemburkan air ke wajahnya, serta memintanya meninggalkan lokasi. Situasi kemudian memanas setelah beberapa orang lainnya mendatangi Amanda.

Putra Amanda yang berusaha menolongnya juga disebut mengalami luka cakaran di tangan saat mencoba menahan seseorang yang menurut Amanda hendak menyerangnya.

Amanda menilai penggunaan kembang api dengan suara dentuman keras perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar, terutama karena kawasan tersebut dihuni anak-anak, bayi, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu.

Keluhan mengenai suara petasan itu juga disampaikan Amanda melalui akun Threads @amandaandono. Dalam unggahannya, ia menceritakan bahwa anaknya yang memiliki kebutuhan khusus terbangun dan mengalami ketakutan akibat suara tersebut.

(Sumber: Antara)

x|close