Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 12:31
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Orang tua dari pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunggu anaknya yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan Orang tua dari pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunggu anaknya yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026 di tujuh provinsi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, data tersebut terus dipantau untuk mengantisipasi kenaikan kasus sekaligus memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak.

Aji menjelaskan, Kemenkes bersama pemerintah daerah telah meningkatkan pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta penyaluran logistik. Hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah dimobilisasi. Selain itu, lebih dari 2,8 juta masker telah didistribusikan melalui berbagai sumber dari pemerintah pusat maupun daerah.

"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan," kata Aji di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.

Ia mengingatkan masyarakat agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu dan minum. Penggunaan nebulizer juga harus berdasarkan indikasi serta petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan secara mandiri tanpa arahan.

Baca Juga: Kemenkes Catat 113 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla

Selain berdampak pada kesehatan fisik, paparan kabut asap dalam waktu lama juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Gangguan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan dapat memicu stres serta kecemasan.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga rutinitas dan memastikan anak tetap beraktivitas di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih bersih. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku anak, gangguan tidur, maupun perubahan pola makan.

"Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk," ujarnya.

Aji turut mengimbau masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus.

Jika masker tersebut tidak tersedia, masker medis atau masker kain dapat digunakan secara berlapis untuk membantu menyaring udara. Namun, perlindungan bayi dan balita sebaiknya dilakukan dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan penggunaan masker.

Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah memperkuat kesiapan layanan kesehatan dan perlindungan bagi kelompok rentan. Fasilitas yang memungkinkan dapat dimanfaatkan sebagai ruang aman dari asap dengan dukungan penyaring udara yang sesuai serta akses pelayanan kesehatan, terutama bagi bayi, balita, dan ibu hamil. Sejumlah daerah terdampak juga telah menyediakan ruang oksigen.

Baca Juga: Dinkes Kalsel Laporkan 3.990 Kasus ISPA hingga Akhir Agustus

"Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat, melalui koordinasi OPD seperti dinas kesehatan, BPBD, dan perangkat daerah terkait. Bagi warga yang rumahnya sulit terlindung dari asap, akses ke ruang dengan udara lebih bersih menjadi penting," ujarnya.

(Sumber: Antara)

TERKINI

Load More
x|close