Ntvnews.id, Pyongyang - Jembatan baru yang menghubungkan Korea Utara (Korut) dan China (Tiongkok) dijadwalkan mulai beroperasi pada Kamis, 15 Oktober 2026, setelah pembukaannya tertunda selama 12 tahun sejak konstruksi selesai.
Media pemerintah Tiongkok, CCTV, melaporkan bahwa Jembatan Sungai Yalu tersebut sudah dapat dilintasi setelah berbagai kendala yang menghambat pengoperasiannya selama bertahun-tahun.
Dilansir dari AFP, Kamis, 15 Oktober 2026, Jembatan sepanjang 3.026 meter ini menghubungkan Sinuiju di Korea Utara dengan Dandong, kota perbatasan di wilayah timur laut Tiongkok. Infrastruktur tersebut memiliki empat lajur yang diharapkan mampu meningkatkan arus transportasi antara kedua negara.
Pembangunan Jembatan Sungai Yalu dimulai pada 2011 dan rampung pada 2014. Meski telah selesai, pembukaannya tidak kunjung terlaksana karena sejumlah persoalan, termasuk belum tersedianya jalan penghubung dan fasilitas bea cukai yang memadai di wilayah Korea Utara.
Tiongkok selama ini menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara sekaligus sumber penting dukungan diplomatik, ekonomi, dan politik bagi negara yang terisolasi tersebut.
Jembatan baru itu dibangun untuk menggantikan Jembatan Persahabatan Sino-Korea yang telah berusia puluhan tahun. Jembatan lama yang juga membentang di atas Sungai Yalu tersebut kerap digunakan untuk lalu lintas kereta api, tetapi kapasitasnya terbatas.
Baca Juga: Perselisihan soal Tawanan Korut Memanas, Korea Selatan Tarik Dubes dari Ukraina
Peneliti Korea Utara, Ahn Chan Il, menilai pengoperasian jembatan baru akan meningkatkan aktivitas lintas batas kedua negara. "Selama ini, pertukaran di jembatan Sungai Yalu skalanya relatif terbatas, namun begitu jembatan baru ini dibuka, ratusan kendaraan dapat melintasinya setiap hari," kata Ahn kepada AFP.
Ahn juga memperkirakan infrastruktur tersebut dapat memperlancar distribusi barang dari Tiongkok dan mendukung pertumbuhan ekonomi Korea Utara. "Jembatan ini bisa menjadi jalur transportasi bagi barang dan sumber daya melimpah China, serta bisa memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian Korea Utara," tambahnya.
Sementara itu, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyampaikan kepada AFP bahwa pemerintah Seoul terus memantau perkembangan menjelang pembukaan jembatan tersebut.
Pengoperasian Jembatan Sungai Yalu yang baru berlangsung lebih dari sebulan setelah Korea Utara meresmikan jembatan pertamanya yang menghubungkan negara itu dengan Rusia. Pyongyang menyebut pembangunan tersebut sebagai salah satu tanda semakin eratnya hubungan dengan Moskow.
Namun, pola perdagangan Korea Utara dengan kedua negara tersebut memiliki karakteristik berbeda. Perdagangan dengan Rusia sebagian besar berkaitan dengan pasokan militer, sedangkan hubungan dagang dengan Tiongkok mencakup berbagai barang yang dibutuhkan Pyongyang untuk mengembangkan perekonomian sipilnya, menurut para analis.
Bendera Korea Utara (korut) (Istimewa)