Ntvnews.id, Tel Aviv - Mantan Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri Israel (Shin Bet), Ronen Bar, melayangkan gugatan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas dugaan pencemaran nama baik. Bar menuntut kompensasi sebesar 3 juta shekel atau sekitar Rp 17,38 miliar.
Dilansir dari AFP, Jumat, 16 Oktober 2026, gugatan tersebut diajukan pada Rabu, 14 Oktober 2026, beberapa pekan menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober. Gugatan itu muncul di tengah perdebatan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Netanyahu selama ini menghadapi kritik dari kubu oposisi karena dianggap gagal mencegah serangan tersebut, yang tercatat sebagai hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan persaingan ketat bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemilu mendatang.
Sepanjang karier politiknya selama puluhan tahun, Netanyahu kerap menempatkan dirinya sebagai sosok yang menjamin keamanan Israel. Ia berulang kali menyatakan serangan Hamas seharusnya dapat dicegah apabila Ronen Bar atau petinggi militer menghubunginya untuk membangunkannya ketika serangan terjadi pada dini hari.
Dalam dokumen gugatan setebal 134 halaman, Bar menuding Netanyahu "berbohong demi melindungi diri sendiri". Ia juga membantah tuduhan yang menyebut dirinya melakukan "kegagalan kriminal" dalam mengantisipasi serangan Hamas tersebut.
Bar menyatakan Netanyahu sengaja melontarkan tuduhan yang diketahuinya tidak benar untuk mengalihkan perhatian publik dari tanggung jawabnya sendiri atas peristiwa 7 Oktober 2023.
Sebaliknya, dokumen gugatan itu menyebut kebijakan Netanyahu selama beberapa tahun justru memperbesar ancaman yang ditimbulkan kelompok teroris di Jalur Gaza.
Bar mengundurkan diri dari jabatannya pada Juni 2025. Ketika itu, ia mengakui adanya kegagalan besar dalam sistem keamanan Israel dan menyatakan Shin Bet tidak berhasil memberikan peringatan sebelum serangan terjadi.
Baca Juga: Kelakar PM Qatar ke Netanyahu Sebagai Penjahat Perang
Meski demikian, Bar menegaskan pengunduran dirinya merupakan bentuk pertanggungjawaban atas posisinya sebagai pemimpin lembaga keamanan tersebut. Ia juga menyatakan telah memperingatkan Netanyahu sebelum serangan 7 Oktober mengenai potensi ancaman dari Hamas.
Dalam gugatan pencemaran nama baik tersebut, Bar meminta Netanyahu membayar kompensasi sebesar 3 juta shekel, setara sekitar US$ 968.500 atau Rp 17,38 miliar.
Bar mengungkapkan bahwa dirinya segera menghubungi sekretaris militer perdana menteri ketika muncul indikasi kemungkinan serangan. Namun, ia mengaku tidak memiliki nomor telepon langsung Netanyahu.
Netanyahu merespons gugatan tersebut dengan mempertanyakan alasan Bar tidak menghubunginya secara langsung ketika tanda-tanda serangan mulai muncul. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui partainya, Likud, Netanyahu mempertanyakan keseriusan gugatan yang diajukan mantan kepala Shin Bet itu.
"Ronen, apakah Anda serius?" tanya Netanyahu.
"Anda memiliki nomor telepon saya di saluran khusus (red line) dan bisa saja langsung menelepon saya, sebagaimana yang dilakukan oleh semua kepala badan keamanan," ucapnya.
"Berapa banyak nyawa yang bisa kita selamatkan seandainya saja Anda menelepon tepat waktu?" tanyanya.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dimulai ketika para militan memasuki wilayah Israel menggunakan kendaraan pikap dan paralayang. Mereka kemudian melancarkan serangan bersenjata di sejumlah lokasi, termasuk sebuah festival musik.
Berdasarkan penghitungan AFP yang mengacu pada data resmi Israel, serangan tersebut menewaskan 1.221 orang. Selain itu, sebanyak 251 orang dibawa ke Jalur Gaza sebagai sandera, dengan 44 orang di antaranya dilaporkan telah meninggal dunia.
Israel kemudian melancarkan operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza sebagai respons atas serangan tersebut. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah kendali Hamas, jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 74.300 orang.
Meski kementerian tersebut beroperasi di bawah pemerintahan Hamas, data korban yang dirilisnya secara umum dinilai dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Benjamin Netanyahu (Istimewa)