Ntvnews.id, Istanbul - Serangan rudal balistik yang dilancarkan kelompok Houthi ke Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara Yaman, pada Kamis, 15 Oktober 2026, menewaskan lima orang dan menyebabkan 16 lainnya terluka, menurut Menteri Kesehatan Yaman.
Seorang sumber pemerintah setempat mengatakan kepada Anadolu bahwa serangan tersebut menggunakan lima rudal balistik. Saat kejadian, sejumlah anggota pemerintahan dilaporkan berada di dalam kompleks istana.
Menteri Kesehatan Yaman Qassem Buhaibeh, melalui akun Facebook-nya, menyebut korban meninggal terdiri atas petugas keamanan dan pegawai sipil yang bertugas di istana kepresidenan.
Buhaibeh menilai insiden tersebut mengulang serangan terhadap Pemerintah Yaman di Bandara Aden pada Desember 2020.
"Pemerintah akan terus melaksanakan kewajiban kepada masyarakat," tambahnya.
Di sisi lain, Kementerian Penerangan Yaman menyatakan bahwa Perdana Menteri Shaya al-Zindani beserta anggota pemerintahan lainnya selamat dari serangan tersebut.
Sejumlah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap mengepul dari kawasan Istana Kepresidenan Al-Maashiq.
Baca Juga: Kemlu Pastikan Perjalanan Umrah Tetap Berjalan meski Bandara Saudi Diserang Houthi
Kantor berita Saba melaporkan bahwa kelompok Houthi juga meluncurkan sejumlah rudal balistik ke kawasan permukiman di Kota Marib. Selain itu, rumah-rumah warga sipil di sekitar istana kepresidenan di Aden dilaporkan turut terdampak serangan.
Sementara itu, Al-Masirah TV, stasiun televisi milik kelompok Houthi, mengonfirmasi serangan terhadap istana kepresidenan dengan mengutip sumber militer yang tidak disebutkan namanya.
Serangan tersebut menjadi yang pertama kali menyasar istana kepresidenan Yaman sejak pertempuran antara kelompok Houthi dan pemerintahan Yaman yang diakui komunitas internasional kembali pecah pada Juli lalu.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree membenarkan bahwa kelompoknya telah menyerang "markas operasi perang Arab Saudi" di Aden. Ia juga menegaskan bahwa keberadaan militer Arab Saudi merupakan sasaran yang sah untuk diserang.
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014, yang memaksa pemerintahan yang sah meninggalkan kota tersebut.
Pada 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung Pemerintah Yaman.
Baca Juga: MBS Dilaporkan Berlindung di Bunker Istana Saat Saudi Digempur Houthi
Eskalasi konflik terbaru bermula pada Juli lalu, setelah upaya mewujudkan gencatan senjata yang disepakati pada 2022 tidak berhasil.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Warga pengungsi Yaman, yang melarikan diri dari serangan Houthi, menerima bantuan pangan dan tempat tinggal dari organisasi kemanusiaan di Aden, Yaman, pada Senin (12/10/2026 (Antara)