Saat Trump Ledek Nama 'Mohammad"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai perhatian setelah melontarkan lelucon mengenai nama Mohammad saat membahas kepemimpinan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato di hadapan pendukungnya pada kegiatan kampanye menjelang pemilihan umum sela di Amerika Serikat.

Dilansir dari Reuters, Senin, 19 Oktober 2026, Trump menyampaikan candaan itu ketika berbicara mengenai Iran dalam sebuah pertemuan di Bandara Regional Dalton, Georgia. Dalam kesempatan tersebut, ia berkampanye untuk mendukung para kandidat Partai Republik yang akan bertarung dalam pemilihan sela pada 3 November mendatang.

"Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad,'" kata Trump.

Ia kemudian melanjutkan leluconnya dengan mengklaim bahwa nama tersebut kerap digunakan untuk menyapa orang yang ditemuinya.

"Peluangnya benar sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," imbuhnya.

Dalam pidatonya, Trump juga berpura-pura bertanya kepada sejumlah orang bernama Mohammad mengenai kesediaan mereka menduduki jabatan presiden Iran. Namun, candaan tersebut tidak mendapat tanggapan dari para pendukung yang hadir.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden," ujarnya.

Baca Juga: Trump Desak Ukraina Ganti Presiden

Pernyataan Trump kembali memunculkan sorotan terhadap gaya komunikasinya yang kerap menuai kontroversi, terutama ketika membahas kelompok tertentu berdasarkan latar belakang agama, etnis, maupun kewarganegaraan.

Sejumlah pembela hak asasi manusia (HAM) dan organisasi advokasi Muslim sebelumnya berulang kali mengkritik retorika Trump yang dinilai merendahkan umat Islam, imigran, serta kelompok minoritas etnis.

Selama masa kampanye pemilihan sela, Trump juga meningkatkan pernyataan kontroversialnya terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan komunitas Muslim. Sejumlah tokoh yang menjadi sasaran sorotannya antara lain Abdul El-Sayed, calon Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Minnesota yang datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi asal Somalia.

Sementara itu, laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) atau Dewan Hubungan Islam Amerika yang diterbitkan pada awal 2026 menyoroti peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat. Laporan tersebut mengaitkan kondisi itu, antara lain, dengan kebijakan pengetatan imigrasi dan penanganan demonstrasi pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump.

Pernyataan terbaru Trump menambah panjang kontroversi terkait penggunaan humor dalam pidato politiknya. Di tengah persaingan menjelang pemilihan sela, komentar yang menyangkut identitas agama dan etnis kembali menjadi bagian dari perdebatan mengenai batas retorika politik di Amerika Serikat.

x|close