Macron Panggil Menteri Bahas Kerusuhan Prancis dan 1.800 Orang Ditangkap

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 07:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron bakal menyampaikan pidato menyusul gelombang demonstrasi yang berujung kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan di sejumlah wilayah negara tersebut.

Dilansir dari AFP, Senin, 19 Oktober 2026, pidato Macron akan disampaikan setelah dirinya menggelar pertemuan dengan sejumlah menteri di Istana Élysée. Pertemuan tersebut dilakukan ketika pemerintah tengah mengevaluasi dampak kerusakan akibat demonstrasi pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Aksi yang semula diwarnai penyampaian aspirasi itu berkembang menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Sejumlah lokasi dilaporkan mengalami pembakaran dan penjarahan.

Sementara itu, Reuters melaporkan seorang pengunjuk rasa meninggal dunia akibat henti jantung ketika demonstrasi berlangsung di Paris.

Menteri Dalam Negeri Prancis mengungkapkan bahwa aparat telah menangkap sekitar 1.800 orang di berbagai wilayah. Selain itu, lebih dari 500 anggota kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka selama rangkaian kerusuhan.

Sebelumnya, Macron menegaskan bahwa para pelaku perusakan dan penjarahan akan menghadapi proses hukum. Ia menekankan bahwa tindakan kekerasan terhadap fasilitas publik maupun tempat usaha tidak dapat ditoleransi.

Baca Juga: Prancis Lolos ke Semifinal Piala Dunia 2026, Macron: Les Bleus Kami, Maroko Lawan Tangguh

"mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota akan dituntut dan dihukum".

Di tengah situasi tersebut, sejumlah menteri menuding kelompok ultra-kiri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan selama demonstrasi. Kerusuhan ini juga menambah tekanan politik terhadap pemerintahan Macron, mengingat Prancis akan menggelar pemilihan untuk menentukan penggantinya dalam enam bulan mendatang.

Di sisi lain, Macron dijadwalkan memulai kunjungan selama tiga hari ke empat negara Arab di kawasan Teluk pada Senin, 19 Oktober 2026, Negara-negara tersebut turut terdampak oleh konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

Konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu telah mendorong kenaikan harga bahan bakar serta meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

Meningkatnya biaya hidup menjadi salah satu faktor yang memicu demonstrasi nasional di Prancis pada Sabtu. Aksi tersebut juga berlangsung setelah gelombang protes pelajar sekolah menengah selama empat pekan terakhir, yang dalam sejumlah kesempatan berakhir ricuh.

Pemerintah Prancis kini menghadapi tantangan untuk memulihkan keamanan, menangani kerusakan akibat kerusuhan, serta merespons keresahan masyarakat terkait biaya hidup. Pertemuan Macron dengan jajaran menteri diharapkan menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menentukan respons terhadap situasi tersebut.

x|close