Ancaman Drone Houthi Meningkat, Warga Riyadh Diminta Waspada

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 08:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Serangan milisi Houthi terhadap dua bandara di Riyadh, Arab Saudi Serangan milisi Houthi terhadap dua bandara di Riyadh, Arab Saudi (Istimewa)

Ntvnews.id, Riyadh - Penduduk Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menerima peringatan darurat mengenai "ancaman udara yang berbahaya" melalui telepon seluler pada Minggu, 18 Oktober 2026 dini hari. Warga diminta menjauhi jendela dan pintu untuk mengantisipasi kemungkinan serangan udara.

Dilansir dari AFP, Senin, 19 Oktober 2026, peringatan yang disampaikan dengan nada siaga tinggi tersebut sempat memicu kepanikan di tengah suasana malam. Namun, otoritas setempat mencabut peringatan itu beberapa menit setelah diumumkan.

Munculnya peringatan darurat tersebut menambah kekhawatiran terhadap ancaman serangan drone dan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman. Situasi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan yang menyasar pusat pemerintahan maupun kawasan permukiman warga di Arab Saudi.

Ancaman udara yang berulang turut memengaruhi aktivitas masyarakat dan memicu kekhawatiran internasional. Pemerintah Arab Saudi pun mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan warga.

Kementerian Pendidikan Arab Saudi memutuskan memperpanjang pembelajaran jarak jauh bagi siswa di wilayah Riyadh dan Diriyah. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan memburuknya situasi keamanan.

Sejumlah kedutaan besar negara asing juga mengeluarkan imbauan keselamatan kepada warga negaranya. Mereka meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan menghindari penggunaan fasilitas bandara di Arab Saudi.

Baca Juga: Begini Keadaan Dua WNI Korban Serangan Houthi di Arab Saudi

Di tengah meningkatnya ketegangan, Mesir menyatakan kesiapannya memberikan dukungan kepada Arab Saudi, termasuk kemungkinan bantuan militer untuk memperkuat pertahanan kerajaan tersebut.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan bahwa Kairo siap mengambil langkah tegas apabila mendapat permintaan resmi dari para pemimpin Arab Saudi.

"Saya tidak berbicara tentang berperang melawan siapa pun atau menyerang siapa pun. Kami hanya berbicara tentang pertahanan," kata Sisi, menegaskan bahwa dukungan Mesir ditujukan untuk kepentingan pertahanan.

Ia juga menilai Mesir tidak mungkin tinggal diam apabila keamanan dan stabilitas Arab Saudi terancam.

Sisi menyebut sangat "tidak terbayangkan" bagi Mesir untuk hanya berdiam diri melihat Kerajaan Arab Saudi "dirugikan atau keamanan serta stabilitasnya terancam."

Sementara itu, ketegangan antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi terus meningkat seiring berlanjutnya aksi saling serang. Militer Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat dan menghancurkan empat drone dalam beberapa jam terakhir di wilayah Riyadh, Provinsi Timur, dan kawasan selatan negara tersebut.

Di sisi lain, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menuduh koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara secara masif ke wilayah mereka. Ia mengklaim sebanyak 53 serangan udara terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir dan mengakibatkan "banyak korban tewas dan terluka."

Perkembangan tersebut memperlihatkan meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah. Peringatan darurat bagi warga Riyadh, pembatasan aktivitas pendidikan, serta kesiapan Mesir memberikan dukungan pertahanan menjadi indikasi bahwa dampak konflik semakin meluas di luar medan pertempuran.

x|close