Demo Prancis Menjalar ke Italia, Albania, dan Belgia, Bentrokan Pecah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 07:19
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Para pelajar berpawai melintasi pusat kota dalam sebuah demonstrasi publik di Nancy, Prancis, pada Sabtu (17/10/2026). Para pelajar turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait kebijakan pendidikan dan kepemudaan sebagai bagian dari rangk Para pelajar berpawai melintasi pusat kota dalam sebuah demonstrasi publik di Nancy, Prancis, pada Sabtu (17/10/2026). Para pelajar turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait kebijakan pendidikan dan kepemudaan sebagai bagian dari rangk

Ntvnews.id, Paris - Gelombang demonstrasi yang melanda sejumlah negara Eropa semakin meluas. Setelah Prancis diguncang aksi protes besar-besaran, unjuk rasa serupa merebak ke Italia, Albania, hingga Belgia, dengan isu mulai dari kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar hingga persoalan pendidikan serta tuntutan politik.

Di Italia, demonstrasi berlangsung di sejumlah kota besar pada Sabtu, 17 Oktober 2026, antara lain Milan, Turin, Bologna, dan Roma. Aksi tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar.

Di Roma, serikat pekerja CGIL menggelar demonstrasi besar untuk menentang kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni. Sekretaris Jenderal CGIL, Maurizio Landini, juga mengumumkan rencana aksi demonstrasi pada 20 November mendatang, bertepatan dengan jadwal mogok mahasiswa berskala Eropa.

Sementara itu, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terjadi di Bologna. Sejumlah kecil demonstran muda yang menutupi wajah melemparkan batu dan botol ke arah polisi. Petugas kemudian merespons dengan menggunakan tongkat pemukul dan gas air mata.

Di Turin, massa menyuarakan penolakan terhadap National Future, partai berhaluan kanan jauh yang dipimpin mantan jenderal Roberto Vannacci.

Situasi serupa terjadi di Milan. Demonstrasi menentang krisis biaya hidup di kawasan Piazza del Duomo berujung bentrokan ketika sejumlah demonstran melemparkan alat pemadam kebakaran, bom asap, dan meja kafe ke arah aparat. Polisi membalas dengan tongkat pemukul dan meriam air.

Laporan awal menyebutkan sejumlah orang mengalami luka-luka, termasuk seorang perempuan muda dan anggota kepolisian yang menderita cedera di kepala. Sebanyak 50 orang dilaporkan telah ditahan selama rangkaian demonstrasi tersebut.

Baca Juga: Wali Kota di Prancis Viral Lindungi Pelajar dari Polisi dalam Aksi Demonstrasi: Mereka Anak Saya

Ketegangan di pusat kota turut membuat wisatawan dan warga bergegas mencari tempat berlindung di toko-toko serta gedung apartemen di sekitar alun-alun.

Sementara di Albania, situasi di pusat Kota Tirana masih diwarnai kerusuhan setelah lima hari berturut-turut demonstrasi berlangsung. Bentrokan antara polisi dan massa disertai kebakaran, perusakan bangunan, penjarahan, serta jatuhnya korban luka.

Pasukan intervensi khusus Albania, RENEA, membentuk barikade untuk melindungi kantor perdana menteri. Namun, kehadiran pasukan tersebut tidak serta-merta meredakan ketegangan di lokasi.

Setelah dipukul mundur dari kantor Perdana Menteri Edi Rama, sejumlah demonstran bergerak menuju gedung Mahkamah Agung dan melemparkan bom molotov. Serangan itu memicu kebakaran di sejumlah kantor, mengancam bangunan di sekitarnya, serta membakar sebuah mobil.

Di lokasi lain, demonstran melemparkan bom api ke arah polisi di jalan raya utama dan pintu masuk sebuah bekas hotel bersejarah yang kini digunakan sebagai kantor Bank Albania. Massa juga melemparkan batu dan pecahan marmer hingga memecahkan kaca bangunan.

Aksi perusakan turut menyasar kantor cabang OTP Bank. Sekelompok demonstran bertudung dilaporkan menerobos pintu masuk, memecahkan jendela, lalu membakar bangunan tersebut.

Para pengunjuk rasa menuntut Edi Rama mundur dari jabatannya. Mereka juga memprotes kondisi pengajaran di universitas dan biaya pendaftaran mahasiswa.

Menteri Kehakiman Albania Toni Gogu mengecam serangkaian serangan terhadap fasilitas publik dan lembaga keuangan tersebut. Ia menegaskan bahwa sasaran aksi itu "bukanlah pemerintah", melainkan "dua lembaga independen yang melayani negara dan warganya".

Di tengah kerusuhan, polisi Albania untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai menggunakan peluru karet, menurut laporan jurnalis AFP yang berada di lokasi. Penggunaan senjata tersebut diatur secara ketat dan hanya diperbolehkan dalam kondisi ekstrem berdasarkan hukum setempat.

Seorang mahasiswa bernama Redi Taku mengkritik tindakan aparat tersebut, terutama karena terdapat demonstran yang masih berusia di bawah umur.

demonstrasi di Prancis/Antara demonstrasi di Prancis/Antara

"Hari ini, untuk pertama kalinya sejak demonstrasi dimulai, polisi menggunakan peluru karet sebagai tindakan ekstrem, padahal mereka tahu ada anak di bawah umur berusia 16 dan 17 tahun di antara para demonstran," kata mahasiswa bernama Redi Taku kepada AFP.

Gelombang protes juga menjalar ke Brussel, Belgia. Ratusan orang, yang sebagian besar merupakan anak muda, turun ke jalan pada Sabtu. Sebagian demonstran terlibat bentrokan dengan polisi di tengah meningkatnya ketegangan yang turut dipengaruhi aksi protes di negara tetangga, Prancis.

Gerakan pelajar di Belgia tersebut menentang kenaikan biaya pendidikan dan sejumlah rencana reformasi yang dinilai berpotensi membatasi akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

Sejumlah demonstran mengenakan penutup wajah dan meneriakkan slogan-slogan antifasis. Menurut seorang saksi mata Reuters, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Di tengah kericuhan, demonstran juga dilaporkan membalikkan sebuah mobil.

Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin merespons situasi tersebut melalui unggahan di platform X. Ia menilai eskalasi yang terjadi di ibu kota Belgia telah melampaui aksi protes biasa.

"apa yang sedang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes".

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil langkah untuk memulihkan situasi keamanan.

"segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi para perusuh".

Meluasnya demonstrasi di Italia, Albania, dan Belgia menunjukkan meningkatnya ketegangan sosial di sejumlah negara Eropa. Meski memiliki pemicu yang berbeda, aksi-aksi tersebut sama-sama diwarnai kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah, persoalan ekonomi, serta kekhawatiran mengenai akses pendidikan. Di sejumlah wilayah, demonstrasi yang semula berlangsung sebagai penyampaian aspirasi berkembang menjadi bentrokan yang melibatkan aparat keamanan.

x|close