Ntvnews.id, Tirana - Aksi demonstrasi antipemerintah di Tirana, ibu kota Albania, semakin memanas setelah polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan massa. Unjuk rasa yang berlangsung selama lima hari itu diwarnai bentrokan dan kekerasan, dengan tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.
Dilansir dari AFP, Senin, 19 Oktober 2026, Ketegangan berlanjut ketika pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabung dalam gerakan protes yang lebih luas untuk menentang pemerintahan Rama. Partai Sosialis yang dipimpinnya diketahui telah berkuasa sejak 2013.
Kemarahan masyarakat dipicu oleh berbagai persoalan, mulai dari sektor pendidikan, tingginya pengangguran, hingga dugaan korupsi. Akumulasi kekecewaan tersebut kemudian berkembang menjadi konfrontasi terbuka antara pengunjuk rasa dan pemerintah.
Dalam aksi di pusat Kota Tirana, massa melemparkan batu, bom molotov, serta kembang api ke arah aparat keamanan. Serangan tersebut terjadi di sekitar kantor Perdana Menteri Edi Rama dan sejumlah lokasi lainnya.
Polisi merespons aksi massa dengan menembakkan gas air mata, mengerahkan meriam air, serta menggunakan tongkat ketika demonstran berusaha menerobos barisan pengamanan. Aparat juga menggunakan peluru karet untuk menghadapi massa yang semakin agresif.
Baca Juga: Menteri AI Albania Pidato Perdana, Apa yang Dikatakan?
Mengutip laporan AFP, penggunaan peluru karet tersebut menjadi yang pertama sejak rangkaian demonstrasi antipemerintah dimulai.
Kepala Kepolisian Nasional Albania, Skender Hita, membenarkan penggunaan peluru karet dalam konferensi pers pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Ia mengatakan, senjata tersebut digunakan "secara terbatas".
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Albania melaporkan sembilan demonstran dan empat anggota kepolisian mendapatkan perawatan medis akibat bentrokan yang terjadi pada Sabtu.
Sementara itu, Hita mengungkapkan bahwa aparat telah menangkap 167 orang selama lima hari berlangsungnya demonstrasi. Selain itu, sebanyak 132 anggota kepolisian dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Sebagai tindak lanjut, tujuh anggota kepolisian dinonaktifkan sementara sambil menunggu penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan wewenang selama pengamanan aksi.
Di tengah situasi yang belum mereda, Rama mengunjungi sejumlah tempat usaha yang mengalami kerusakan akibat demonstrasi. Perdana menteri yang kini menjalani periode keempat kepemimpinannya itu tetap menolak mundur dari jabatannya.
Meski demikian, Rama berjanji akan mendengarkan aspirasi para pelajar sekaligus menjamin hak mereka untuk menyampaikan pendapat melalui demonstrasi.
Ia juga mengingatkan para pengunjuk rasa agar tidak melakukan perusakan lebih lanjut. Rama turut menuding lawan politiknya dari kelompok konservatif sebagai pihak yang memperkeruh situasi dan memicu kekerasan.
Rangkaian demonstrasi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat Albania terhadap sejumlah persoalan domestik. Hingga Sabtu, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan masih menjadi tantangan bagi pemerintah dalam meredakan ketegangan di ibu kota.
Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)