DARI MEJA REDAKSI: El Nino Diperkirakan Sampai Mei 2027, MBKG Sebut Tetap Ada Hujan Tapi Intensitas Dibawah Normal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 16:58
thumbnail-author
Ramses Manurung
Penulis & Editor
Bagikan
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Dr. Marjuki dalam program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Dr. Marjuki dalam program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV

Ntvnews.id, Jakarta - Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Dr. Marjuki memberikan penjelasan mendalam mengenai dinamika iklim ekstrem yang tengah melanda Indonesia saat hadir sebagai narasumber dalam program DARI MEJA REDAKSI di Nusantara TV, Senin (19/10).

Di tengah meluasnya dampak kekeringan dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara, BMKG memprediksi bahwa durasi fenomena El Nino dapat membentang hingga pertengahan tahun mendatang.

Dr. Marjuki menjelaskan bahwa puncak dan fase akhir (ending) dari fenomena El Nino kuat diperkirakan berlangsung hingga rentang bulan Maret, April, sampai Mei.

Meskipun beberapa wilayah di Indonesia sudah mulai memasuki transisi musim hujan, masyarakat diimbau untuk memahami bahwa intensitas air yang turun belum kembali ke kondisi rata-rata normalnya.

"Nanti akan berakhir tuh di sekitar Maret, April, Mei. Tapi ini harus dipahami ya, antara El Nino dengan musim kemarau itu hal yang berbeda," ungkap Dr. Marjuki.

Ia menegaskan bahwa hadirnya hujan di sejumlah daerah tidak serta-merta menandakan fenomena El Nino telah usai.

"Beberapa wilayah sudah dikatakan masuk musim hujan, tetap hujan. Tapi hujannya itu memang dia intensitasnya di bawah normal, artinya curah hujannya di bawah normal," terangnya.

Berdasarkan pemantauan BMKG, fenomena El Nino kali ini tercatat memiliki skala intensitas yang sangat tinggi dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Indeks kekuatan El Nino yang terpantau telah menembus angka 3,08.

"Indikator kekuatan itu ditandai dengan indeks, dan indeks El Nino saat sekarang ini 3,08. Ini sudah lebih dari dua, artinya sudah kategori sangat kuat dan ini melebihi dari kejadian El Nino yang sebelumnya yang pernah terjadi," paparnya.

Baca juga: BMKG: El Nino Bikin Musim Hujan Mundur, Puncaknya Desember 2026

Fenomena ini terjadi akibat pergeseran massa panas dan suhu permukaan laut ke wilayah Pasifik Tengah dan Timur.

Akibatnya, angin yang biasanya membawa uap air ke wilayah Indonesia mengalami perlambatan, sehingga pembentukan awan hujan menjadi sangat minim.

Dampak dari berkurangnya kelembapan atmosfer memicu terjadinya Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang sangat panjang. BMKG mencatat rekor HTH ekstrem di wilayah Pulau Jawa, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (161 hari), Jawa Tengah (160 hari), dan Jawa Timur (159 hari).

Selain itu, keberadaan El Nino yang masih aktif juga menyebabkan waktu mulainya musim hujan mengalami keterlambatan.

"Musim hujan ini sebenarnya angin muson (monsun) membawa uap air dari Samudra Hindia, nah hanya masalahnya memang hujannya akan menjadi mundur karena El Nino-nya masih aktif. Di beberapa wilayah seperti Jawa Barat misalnya, mulainya bisa mundur 20 sampai 30 hari," jelas Dr. Marjuki.

Guna meminimalkan dampak kekeringan dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), BMKG telah mendiseminasikan peringatan dini serta mengirimkan surat informasi resmi kepada Presiden, kementerian terkait, hingga para Gubernur di seluruh Indonesia.

BMKG juga aktif berkolaborasi dalam Desk Karhutla Menko Polkam untuk menyajikan analisis titik panas (hotspot), sebaran asap, dan pemanduan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Menutup keterangannya, Dr. Marjuki menyampaikan bahwa secara ilmiah, setelah melewati fase El Nino yang sangat kuat, pola iklim biasanya akan mengalami penyesuaian menuju siklus yang lebih basah (tahun basah).

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat juga diminta bersiap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi saat intensitas hujan meningkat di masa mendatang.

x|close