Ntvnews.id, Washington D.C - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio membantah kabar bahwa pemerintah Washington menghentikan sementara pertukaran informasi intelijen dengan Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya tekanan Presiden Donald Trump terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar segera mengakhiri perang dengan Rusia.
Rubio menepis informasi yang sebelumnya disampaikan pihak Kyiv mengenai penghentian sementara pembagian intelijen selama tiga hari. Ia menegaskan bahwa kerja sama intelijen antara kedua negara tidak dihentikan.
“Tidak ada penghentian sementara,” kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Uzbekistan, sebagaimana dilansir dari AFP, Selasa, 20 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut merespons laporan mengenai dugaan penghentian sementara pasokan informasi intelijen AS yang selama ini dimanfaatkan Ukraina untuk mengantisipasi serangan rudal Rusia.
Sebelumnya, pada Minggu, 18 Oktober 2026, Zelensky menyatakan bahwa pertukaran intelijen tersebut telah kembali dilanjutkan setelah sempat terhenti selama tiga hari.
Namun, persoalan mengenai ketersediaan informasi peringatan dini terhadap serangan Rusia masih menjadi perhatian. Jurnalis Alex Raufoglu melaporkan bahwa sejumlah sumber Ukraina menyebut tidak ada peringatan awal mengenai ancaman rudal balistik dalam serangan Rusia yang menyasar Kyiv pada Senin dini hari.
Koresponden Kyiv Post yang berada di Distrik Solomianskyi, Kyiv, juga melaporkan mendengar ledakan sebelum sirene peringatan serangan udara terdengar. Sirene tersebut baru berbunyi beberapa menit setelah ledakan terjadi.
Baca Juga: Menko Airlangga dan Menkeu Suahasil Kompak Laporkan Ekonomi Indonesia Tetap Stabil ke Prabowo
Rubio mengatakan Trump menginginkan Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin memprioritaskan upaya mengakhiri konflik yang kini memasuki tahun kelima. Washington, menurutnya, berharap seluruh pihak yang terlibat mengarahkan perhatian pada penyelesaian perang.
“Apa yang seharusnya menjadi fokusnya (Zelensky), dan apa yang ingin menjadi fokus kami, adalah mengakhiri perang ini,” kata Rubio.
“Itulah yang kami ingin menjadi fokus semua pihak. Kami juga ingin Rusia memusatkan perhatian pada hal tersebut,” tambahnya. Rubio menegaskan bahwa penghentian perang menjadi salah satu prioritas utama Trump.
Perbedaan pernyataan mengenai pertukaran intelijen tersebut mencuat ketika Trump semakin keras mengkritik Zelensky. Pada saat yang sama, pemerintah AS berupaya menjalin kesepakatan dengan Moskow terkait pengamanan ekspor bahan bakar dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu, Trump mengklaim telah mencapai kemajuan signifikan dalam upaya mendorong kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Meski demikian, ia menuding Zelensky tidak menunjukkan keinginan untuk mengakhiri konflik.
“Zelensky tidak peduli dan, sejujurnya, dengan semua uang yang terkenal diberikan Eropa kepadanya ... dia tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya,” tulis Trump.
Selain mempertanyakan komitmen Zelensky terhadap perdamaian, Trump turut mengecam serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Ia menilai serangan tersebut berdampak terhadap pasar bahan bakar diesel global, termasuk di Amerika Serikat.
“Zelensky menjadikan kilang diesel di Rusia sebagai sasaran, dengan mengetahui bahwa serangan-serangan ini sangat merugikan pasar diesel dunia, termasuk di Amerika Serikat,” katanya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, Rabu 6 Mei 2026. (ANTARA/Anadolu Agency/pri) (Antara)