Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyampaikan ribuan orang ditangkap setelah gelombang demonstrasi yang berlangsung pada akhir pekan berujung kerusuhan.
“Saat ini, 2.513 orang telah ditahan,” kata Nunez kepada stasiun televisi TF1 pada 19 Oktober.
Ia menambahkan, lebih dari 500 orang yang ditahan dijadwalkan menjalani persidangan dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, sebanyak 67 orang telah dipenjara. Namun, Nunez tidak merinci apakah angka tersebut merujuk pada penahanan selama proses hukum atau hukuman penjara setelah putusan pengadilan.
Kerusuhan bermula dari demonstrasi besar pada Sabtu, 17 Oktober. Aksi tersebut dipicu oleh kenaikan biaya hidup dan penurunan standar pendidikan, sebelum berkembang menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
Baca Juga: Demo Meluas di Prancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Hindari Kerumunan
Situasi memanas di sejumlah kota. Di Limoges, sekelompok perusuh membakar gedung balai kota bersejarah. Sementara itu, beberapa gedung pemerintahan di Marseille dan kota-kota lain juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Aksi penjarahan turut terjadi, terutama di Paris dan Marseille. Sejumlah toko dirusak dengan kaca etalase dipecahkan, sementara barang dagangan, termasuk produk dari butik bermerek mewah, dibawa kabur.
Pada Minggu, 18 Oktober, jumlah orang yang ditahan telah melampaui 2.000 orang sebelum meningkat menjadi 2.513 orang berdasarkan keterangan terbaru Menteri Dalam Negeri.
Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti rangkaian demonstrasi tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 110.000 orang berunjuk rasa di Paris.
Baca Juga: Demo Ricuh, PM Prancis Minta Daerah Berlakukan Jam Malam
(Sumber: Antara)
Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam sebuah demonstrasi di tengah mobilisasi nasional terkait kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, dan pendanaan pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (ANTARA)