Catat Rekor, Menpar Sebut Sektor Pariwisata Serap 25,91 Juta Pekerja pada 2025

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Okt 2026, 14:39
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Arsip foto - Wisatawan mancanegara berkeliling persawahan saat berkunjung di Desa Wisata Jatiluwih, Tabanan, Bali, Minggu (20/7/2025). Kementerian Pariwisata pada periode Januari-Mei 2025 mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 5,63 juta orang yaitu lebih tinggi dibandingkan perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri sebanyak 3,84 juta orang Arsip foto - Wisatawan mancanegara berkeliling persawahan saat berkunjung di Desa Wisata Jatiluwih, Tabanan, Bali, Minggu (20/7/2025). Kementerian Pariwisata pada periode Januari-Mei 2025 mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sebanyak 5,63 juta orang yaitu lebih tinggi dibandingkan perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri sebanyak 3,84 juta orang (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memaparkan bahwa sektor pariwisata nasional sukses menyerap sebanyak 25,91 juta tenaga kerja sepanjang tahun 2025 lalu.

Dalam Laporan Capaian Dua Tahun Sektor Pariwisata yang dirilis di Denpasar, Selasa (20/10), Widiyanti menegaskan bahwa angka penyerapan tenaga kerja tersebut merupakan pencapaian tertinggi dalam satu dekade terakhir. Sektor ini mencakup berbagai lapisan ekosistem pariwisata secara luas, mulai dari perhotelan, restoran, usaha perjalanan, destinasi wisata, sektor transportasi, penyelenggaraan kegiatan (event), ekonomi kreatif, hingga bermacam kegiatan ekonomi masyarakat yang tumbuh seiring dengan pergerakan wisatawan.

“Jumlah tenaga kerja yang terserap sektor pariwisata pada 2025 merupakan yang terbesar ketiga setelah sektor pertanian dan perdagangan. Hal ini tentunya memberikan dampak atau peluang bagi masyarakat untuk berkarya, bekerja, dan memperoleh penghasilan di sektor pariwisata,” ungkap Menpar Widiyanti.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa realisasi investasi di sektor pariwisata sepanjang tahun 2025 telah menyentuh angka Rp73,56 triliun, dan tren positif tersebut terus berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026 dengan perolehan sebesar Rp39,68 triliun pada semester I.
 

Khusus di enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, nilai investasi pada semester I 2026 tercatat mencapai Rp1,4 triliun serta sukses membuka 1.858 lapangan kerja baru. Sementara itu, lima KEK lainnya yang juga memiliki aktivitas pariwisata membukukan investasi sebesar Rp4,5 triliun dengan penyerapan 1.621 tenaga kerja baru.

“Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan,” imbuhnya.

Di samping itu, Kementerian Pariwisata melalui enam politeknik pariwisata (Poltekpar) di bawah naungannya turut aktif mendukung berbagai program prioritas pemerintah. Kapasitas fasilitas serta keilmuan yang dimiliki Poltekpar dialokasikan untuk menyelenggarakan pelatihan khusus terkait higiene dan manajemen dapur guna mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah nyata lainnya adalah Gerakan Wisata Bersih yang digagas Kementerian Pariwisata sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia ASRI. Sepanjang 2025, gerakan ini telah merealisasikan 14 aksi bersih di 10 provinsi berbeda, yang melibatkan 9.134 orang partisipan serta berhasil mengumpulkan total 21,5 ton sampah.
 

Kementerian Pariwisata juga menggandeng berbagai pemangku kepentingan guna menghadirkan sejumlah insentif strategis. Di antaranya adalah kebijakan potongan harga tiket transportasi pada musim liburan agar tetap terjangkau oleh masyarakat, pemberian insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang ditanggung pemerintah bagi pekerja pariwisata dengan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan (dengan proyeksi mencapai 552.000 penerima manfaat), serta Program Magang Nasional yang membuka kesempatan luas bagi generasi muda untuk menimba pengalaman langsung di industri pariwisata.

Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menambahkan bahwa pemerataan roda perekonomian nasional turut tercermin dari pertumbuhan pesat ekosistem desa wisata serta penyelenggaraan berbagai kegiatan di daerah. Berdasarkan data per September 2026, tercatat lebih dari 6.300 desa wisata telah resmi terdaftar dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).

Hasil pemantauan Kementerian Pariwisata terhadap 66 desa wisata percontohan menunjukkan adanya lonjakan pendapatan desa dari sektor pariwisata sebesar 29,62 persen, yakni dari Rp46,05 miliar melonjak menjadi Rp59,70 miliar pada periode 2024 hingga 2025.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke desa-desa wisata tersebut juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 35,48 persen, dari 54.922 kunjungan menjadi 74.409 kunjungan. Tren positif ini turut diikuti oleh lonjakan kunjungan wisatawan nusantara sebesar 45,17 persen, dari sekitar 1,55 juta perjalanan menjadi 2,25 juta perjalanan.
 

Ketersediaan lapangan kerja bagi tenaga lokal kian meluas dengan kenaikan hingga 53,34 persen (dari 3.234 menjadi 4.959 orang), sementara jumlah kamar homestay melonjak hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar. Tak hanya itu, pada Maret 2026 tercatat sebanyak 6.469 unit UMKM telah beroperasi di kawasan desa-desa wisata tersebut.

Prestasi membanggakan juga ditorehkan oleh sejumlah desa wisata di Tanah Air di kancah internasional, di mana Desa Wisata Jatiluwih (Bali), Desa Wisata Wukirsari (DI Yogyakarta), dan Desa Wisata Pemuteran (Bali) sukses menyabet penghargaan bergengsi UN Tourism Best Tourism Village dalam dua tahun berturut-turut.

"Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat," pungkas Ni Luh.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close