Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Prancis resmi memperluas kebijakan pemberlakuan jam malam dari wilayah Paris ke Kota Nice, Lyon, hingga sejumlah kawasan di departemen Gironde. Langkah darurat ini diambil menyusul maraknya aksi protes akhir pekan lalu yang diwarnai oleh gelombang kekerasan dan aksi penjarahan, sebagaimana dilaporkan oleh BFMTV pada Senin (20/10).
Di ibu kota Paris, aturan jam malam diberlakukan mulai pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat, yang mencakup kawasan sekitar Place de la Republique serta jalan-jalan di sekitar area pusat perbelanjaan Les Halles. Pemerintah menegaskan bahwa pembatasan jam malam ini berlaku secara menyeluruh bagi seluruh penduduk tanpa terkecuali, bukan hanya anak di bawah umur.
Selain itu, pemerintah juga memberlakukan larangan demonstrasi di sejumlah wilayah Paris mulai pukul 20.00 hingga 06.00.
Sementara itu, di Kota Lyon, jam malam diterapkan pukul 21.00 hingga 06.00 yang berlokasi di sebagian kawasan Presqu’ile yang merupakan jantung pusat kota.
Wali Kota Nice, Eric Ciotti, turut mengumumkan pemberlakuan jam malam, khususnya bagi anak di bawah umur, yang dimulai pukul 21.00 hingga 06.00 di beberapa ruas jalan utama pusat kota. Ciotti menjelaskan bahwa kebijakan ketat ini bertujuan melindungi keselamatan warga, dengan merujuk pada kondisi "gerombolan perusuh yang menyapu jalan-jalan kota akhir pekan ini."
Di wilayah Gironde, Prancis barat daya, aturan jam malam diberlakukan khusus bagi anak di bawah umur yang tidak didampingi oleh orang tua atau wali yang sah. Kebijakan ini berlaku mulai pukul 22.00 hingga 07.00 dan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Oktober mendatang.
Pemerintah setempat menyatakan bahwa pembatasan tersebut difokuskan pada wilayah-wilayah yang paling parah terdampak aksi penjarahan serta vandalisme pada 17 Oktober lalu.
Pemberlakuan pembatasan ketat ini dilakukan seiring langkah pemerintah di berbagai wilayah Prancis yang menerapkan jam malam serta pengamanan berlapis pasca-pecahnya kerusuhan dan penjarahan dalam demonstrasi nasional. Berbagai aksi protes tersebut, yang awalnya digelar untuk memprotes kenaikan biaya hidup serta lonjakan harga bahan bakar, berujung pada aksi kekerasan.
Sebelumnya, pada Senin, pemerintah juga mengumumkan bahwa jam malam akan diberlakukan selama dua malam berturut-turut di empat wilayah utara Prancis, yakni Lille, Douai, Wattignies, dan Denain, atas persetujuan para wali kota setempat. Pembatasan di keempat wilayah tersebut berlaku pukul 20.00 hingga 06.00, sementara khusus wilayah Denain juga menerapkan jam malam terpisah pukul 21.00 hingga 06.00 yang berlaku hingga 25 Oktober.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mencatat bahwa sekitar 550.000 orang mengikuti 110 aksi demonstrasi di seluruh penjuru Prancis pada Sabtu lalu, dengan catatan 110.000 peserta terkonsentrasi di Paris. Secara nasional, aparat keamanan mengamankan sekitar 400 orang.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan para prefek untuk memberlakukan jam malam secara terbatas dan di wilayah-wilayah tertentu guna memulihkan ketertiban. Di samping itu, PM Lecornu juga mengumumkan peluncuran operasi penegakan hukum berskala besar guna memburu pihak-pihak yang menjadi provokator serta bertanggung jawab atas aksi kekerasan dan penjarahan. Pemerintah turut menyiapkan keringanan berupa langkah pengurangan jam kerja guna membantu para pelaku usaha yang terdampak secara ekonomi, serta memberlakukan pembatasan aktivitas berkumpul di wilayah Marseille.
(Sumber: Antara)
Kobaran api di tengah jalan-jalan di Paris yang menunjukkan kerusakan pasca bentrokan sengit selama sehari antara polisi dan pengunjuk rasa. Peristiwa ini terjadi di tengah mobilisasi nasional yang dipicu oleh meningkatnya biaya hidup, harga bahan bakar, serta pendanaan pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026 (Antara)