DEN: Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Ekspor Hilirisasi Melesat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Okt 2026, 04:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Prabowo Subianto menerima laporan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026 Prabowo Subianto menerima laporan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026 (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) melaporkan ekspor produk hilirisasi mineral Indonesia mencatat prestasi selama dua tahun pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto.

Hal ini tercermin dari nilai ekspor hilirisasi pada 2026 yang diproyeksikan mencapai USD 50 miliar atau sekitar Rp899 triliun (kurs USD Rp17.983). Meningkat 45 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar USD 34,5 miliar atau sekitar Rp620 triliun.

“Kami hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi tadi komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar 50 miliar dolar atau naik hampir sekitar 45 persen dibandingkan ekspor kita pada tahun 2024,” kata anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.

“Jadi ini merupakan prestasi yang tadi kami sampaikan sangat baik kepada Bapak Presiden karena selama dua tahun periode pemerintahan beliau, ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen,” imbuhnya.

Baca Juga: Prabowo Bakal Luncurkan Perlinsos Digital 10 November 2026

Seto mengatakan hilirisasi yang terjadi secara masif di Indonesia tidak hanya terbatas pada nikel, tapi juga merambah ke aluminium dan hilirisasi komponen-komponen baterai litium.

Menurut data yang dihimpun DEN, ekspor produk aluminium pada 2026 diproyeksikan mencapai USD 7,2 miliar atau Rp129,5 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan capaian sekitar USD 3,5 miliar atau Rp62,9 miliar pada 2024.

“Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” jelas Seto.

Kemudian, untuk hilirisasi komponen baterai litium, Seto menjelaskan Indonesia kini telah memproduksi berbagai komponen baterai litium, seperti anoda dan katoda baterai. Bahkan, Indonesia memiliki fasilitas pemurnian litium (lithium refinery) meskipun tidak memiliki sumber daya litium sendiri.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi (hilirisasi) yang lebih lengkap," ucapnya.

DEN, yang diketuai Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa capaian ini turut menjawab berbagai pertanyaan dan kritik terkait hilirisasi di Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.

Selain itu, peningkatan ekspor produk hilirisasi kini menjadi sumber tambahan devisa bagi negara yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

x|close