Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim bahwa ancaman terhadap negaranya hanya dapat dihilangkan dengan menggulingkan rezim Iran.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu saat menghadiri kampanye di Dimona pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia menyebut Iran selama ini menjadi ancaman terbesar bagi Israel.
"Iran ingin menghancurkan kita, tapi berhasil kita hentikan. Mereka ingin memproduksi bom nuklir, tapi berhasil kita hentikan... Masalahnya, mereka terus berulah," kata Netanyahu, seperti dikutip dari AFP, Jumat, 23 Oktober 2026.
"Oleh sebab itu, hanya ada satu cara untuk mengakhiri ini, yaitu menggulingkan rezim tersebut," lanjutnya.
Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya telah memberikan instruksi terkait misi tersebut kepada Pasukan Pertahanan Israel (IDF), badan intelijen Mossad, serta seluruh unsur keamanan Israel.
Namun, ia tidak memerinci mekanisme pelaksanaan instruksi itu maupun waktu yang direncanakan untuk menjalankannya.
Baca Juga: Netanyahu Desak Trump Lanjutkan Perang Iran Jelang Pemilu Israel dan AS
Pada hari yang sama, Financial Times melaporkan bahwa Netanyahu sebelumnya sempat memerintahkan militer Israel untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada awal Oktober. Akan tetapi, rencana tersebut dikabarkan mendapat penolakan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump disebut tidak ingin terlibat dalam perang menjelang pemilu paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Pernyataan Netanyahu mengenai Iran juga muncul menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Pemungutan suara tersebut akan menentukan pemerintahan baru di negara itu.
Sejumlah survei terbaru memperlihatkan penurunan elektabilitas Netanyahu beserta partainya. Kondisi tersebut terutama dikaitkan dengan kegagalan pemerintah Israel mengantisipasi serangan Hamas pada 2023 serta kebijakan yang mengecualikan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks dari kewajiban militer.
Kedua persoalan itu menjadi sorotan publik dan turut memengaruhi posisi politik Netanyahu menjelang pemilu.
Benjamin Netanyahu (Istimewa)