Gempa M 7 Guncang Tibet 16 Orang Tewas, Xi Ji Jinping Turun Tangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Okt 2026, 09:33
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Presiden China Xi Jinping. (Foto: Istimewa) Presiden China Xi Jinping. (Foto: Istimewa) (Tangkapan Layar: Instagram)

Ntvnews.id, Beijing – Presiden China Xi Jinping menginstruksikan agar penanganan bencana gempa bumi di wilayah Tibet dilakukan secara maksimal. Gempa berkekuatan Magnitudo 7 tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang, melukai puluhan lainnya, serta menyebabkan ratusan rumah roboh.

Berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa terjadi pada Kamis, 22 Oktober 2026 sekitar pukul 22.33 waktu setempat. Pusat gempa berada di kawasan pegunungan, sekitar 190 kilometer di sebelah timur Nagqu dan 390 kilometer di timur laut Lhasa, ibu kota Tibet.

Gempa tersebut tergolong dangkal karena berpusat pada kedalaman sekitar 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

Dalam pernyataannya, Xi menyebut bencana itu menimbulkan "korban jiwa yang cukup banyak" dan terjadi di "lokasi dengan ketinggian yang tinggi" saat cuaca dingin. Pernyataan tersebut dikutip Xinhua dan dilansir dari AFP, Minggu, 25 Oktober 2026.

"Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dan melakukan segala upaya untuk merawat mereka yang luka-luka, demi meminimalkan jumlah korban," kata Presiden China tersebut.

Baca Juga: Xi Jinping Pingsan di KTT BRICS?

Xi juga memerintahkan agar bantuan bagi warga terdampak beserta peralatan penyelamatan segera dikirimkan ke lokasi bencana.

Rekaman video yang dirilis menunjukkan petugas penyelamat menyusuri lokasi dalam kondisi gelap dengan membawa obor. Kantor berita Xinhua melaporkan lebih dari 300 rumah ambruk akibat guncangan gempa.

Sementara itu, media pemerintah China, CCTV, melaporkan sebanyak 65 orang mengalami luka-luka. Tayangan televisi tersebut memperlihatkan petugas tanggap darurat mengevakuasi seorang korban sambil menggunakan senter untuk memeriksa bangunan yang rusak. Sejumlah bangunan terlihat mengalami kerusakan berat, termasuk bagian atap yang runtuh.

Informasi mengenai dampak gempa sebagian besar bersumber dari otoritas China karena sebagian besar wilayah Tibet tertutup bagi jurnalis asing.

Warga Ketakutan dan Enggan Kembali ke Rumah

Ilustrasi gempa bumi <b>(ANTARA)</b> Ilustrasi gempa bumi (ANTARA)

Gempa kuat tersebut membuat warga bergegas menyelamatkan diri ketika bangunan tempat tinggal mereka berguncang. Seorang warga Tibet yang identitasnya dirahasiakan menceritakan kepada media setempat bahwa keluarganya sedang bersiap tidur ketika gempa terjadi dan membuat barang-barang di dalam rumah berjatuhan.

"Kami bergegas keluar rumah tanpa sempat berpakaian," ucapnya. "Kaki saya gemetar sepanjang perjalanan menuruni tangga, dan begitu sampai ke bawah, saya merasa sangat ketakutan hingga menangis," kata warga Tibet tersebut.

Ia mengatakan banyak warga masih takut memasuki rumah mereka kembali setelah gempa. Sebagian memilih bertahan di luar ruangan untuk menghindari risiko bangunan kembali berguncang.

Menurut warga tersebut, masyarakat setempat "takut untuk kembali ke rumah mereka" dan terpaksa "mendirikan tenda di sepanjang tepi jalan atau menghabiskan malam di dalam mobil".

Kesaksian serupa disampaikan warga Tibet lainnya kepada Beijing News. Ia menggambarkan guncangan gempa yang "sangat kuat" hingga membuat rumahnya "berderit dan bergetar hebat".

"Saya sedang tidur saat gempa terjadi. Sekarang semua orang sudah lari keluar dan terlalu takut untuk kembali masuk. Saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju area terbuka untuk tidur di dalam mobil," ucapnya.

Situasi tersebut membuat upaya penanganan darurat menjadi penting, tidak hanya untuk mencari dan mengevakuasi korban, tetapi juga membantu warga yang kehilangan tempat tinggal atau belum berani kembali ke rumah mereka.

Pemerintah China telah menginstruksikan pengerahan bantuan dan peralatan penyelamatan ke wilayah terdampak. Operasi pencarian dan penyelamatan serta penanganan korban luka menjadi prioritas untuk mengurangi dampak bencana.

x|close