Ntvnews.id, Tirane – Gelombang demonstrasi mahasiswa di Albania terus meluas di tengah ketidakpuasan terhadap pemerintah, korupsi, serta meningkatnya biaya pendidikan. Pada Selasa, 20 Oktober 2026 mahasiswa dan dosen Universitas Tirana kembali berunjuk rasa di depan Kementerian Pendidikan di ibu kota Tirane.
Dampak bentrokan dalam demonstrasi pada 13 Oktober masih terlihat di lokasi. Sejumlah kaca jendela bangunan belum diperbaiki, sedangkan bagian dinding masih menghitam akibat kebakaran saat aksi berlangsung.
Dilansir dari DW, Minggu, 26 Oktober 2026, Albania telah menghadapi gelombang demonstrasi damai selama hampir lima bulan. Aksi tersebut mulanya dipicu penolakan terhadap rencana pembangunan kompleks hotel mewah di kawasan konservasi alam oleh Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bersama sejumlah rekannya.
Seiring waktu, tuntutan demonstran berkembang menjadi gerakan antipemerintah dan antikorupsi. Mahasiswa dan pelajar sekolah menengah semakin sering turun ke jalan hingga terlibat bentrokan dengan polisi. Bentrokan terparah sejauh ini terjadi pada pekan sebelumnya.
Para demonstran menyoroti korupsi, buruknya pengelolaan universitas, dan mahalnya biaya pendidikan. Mereka juga mendesak Perdana Menteri Edi Rama mundur dari jabatannya, yang telah dipegangnya sejak 2013.
Baca Juga: Demo Prancis Menjalar ke Italia, Albania, dan Belgia, Bentrokan Pecah
Di tengah demonstrasi yang semakin meluas, media sosial menjadi sarana utama bagi mahasiswa untuk berkoordinasi. Seorang demonstran perempuan yang meminta identitasnya disamarkan dengan nama Sara mengaku khawatir menghadapi konsekuensi jika berbicara kepada media. Ia mengenakan jaket hitam bertudung dan syal yang menutupi wajahnya.
"Para demonstran berkomunikasi lewat pesan teks. Hanya itu caranya," ujarnya.
Sara mengakhiri wawancara lebih awal setelah sejumlah demonstran mulai melempari gedung Kementerian Pendidikan dengan batu. Polisi kemudian berupaya menjauhkan massa dan jurnalis dari lokasi, termasuk dengan menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran.
Pegiat keamanan siber Albania, Besmir Semanaj, menilai media sosial kini memiliki peran penting dalam menggerakkan aksi, bahkan melampaui ruang publik konvensional.
"Media sosial kini menjadi ruang publik paling penting, bahkan lebih penting daripada ruang fisik," kata Besmir Semanaj, seorang pegiat keamanan siber terkemuka di Albania, kepada DW.
"Anak-anak muda Albania tidak lagi mengorganisasi diri lewat struktur tradisional seperti partai politik, asosiasi, atau seruan terbuka kepada publik. Sebaliknya, mereka mengorganisasi diri lewat perangkat yang menjadi bagian dari keseharian mereka, yaitu ponsel," tambahnya.
Menurut Semanaj, para demonstran menggunakan beragam platform untuk menyebarkan informasi dan mengatur aksi. Instagram, grup WhatsApp berdasarkan angkatan, jurusan, dan asrama mahasiswa, serta kanal Telegram menjadi sarana komunikasi utama. Sementara itu, TikTok dimanfaatkan untuk membagikan video demonstrasi, sedangkan sebagian orang memilih Signal demi menjaga keamanan komunikasi.
"Ini merupakan struktur organisasi horizontal, tanpa 'pemimpin' individual dan tanpa komando terpusat," kata Semanaj. "Itulah yang membuat pemerintah kesulitan memahami dan mengendalikan situasi," ucapnya.
Edi Rama Tuduh Antifa Picu Demonstrasi
Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)
Perdana Menteri Edi Rama menyebut gelombang perlawanan anak muda sebagai "perang hibrida". Ia juga menyindir kemampuan para demonstran dalam menyampaikan gagasan melalui media sosial.
Rama mengatakan para demonstran mengira mereka dapat "membuat Albania menjadi negara yang lebih baik lewat TikTok, padahal mereka bahkan tidak mampu merangkai lebih dari tujuh kata yang masuk akal".
Meski mengakui tidak semua demonstran merupakan teroris, Rama menuding sebagian dari mereka dipengaruhi ideologi yang bertujuan merusak dan menggulingkan tatanan yang berlaku.
Selama berbulan-bulan, Rama juga menuduh sejumlah pihak asing berada di balik demonstrasi antipemerintah dan antikorupsi. Ia sebelumnya menyebut Yunani, Rusia, dan Iran ikut mendorong ketidakpuasan masyarakat Albania.
Terbaru, Rama menuding Antifa, gerakan antifasis global yang tidak memiliki struktur terpusat, sebagai pihak yang memicu sentimen antipemerintah dan antikorupsi.
"Mereka adalah anak-anak muda yang telah diradikalisasi dan didoktrin secara ideologis, serta bertindak di bawah tekanan atau pengaruh kekuatan baru yang gelap, yang muncul di Eropa dan Amerika Serikat. Kekuatan ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Presiden Amerika Serikat, yaitu Antifa," klaim Rama.
Namun, peneliti keamanan yang berfokus pada pencegahan kekerasan dan penyelesaian konflik, Redion Qirjazi, meragukan tuduhan tersebut dapat dibuktikan.
"Itu tuduhan serius yang membutuhkan bukti sama kuatnya," kata Qirjazi. "Hingga saat ini, belum ada bukti yang dapat diverifikasi untuk membuktikan keberadaan struktur Antifa yang terorganisasi di Albania, apalagi keterlibatannya dalam mengoordinasikan demonstrasi."
Qirjazi juga mempersoalkan penggunaan pernyataan Trump yang menyebut Antifa sebagai kelompok teroris sebagai dasar tuduhan tersebut.
"Antifa bukanlah organisasi internasional tunggal dengan struktur atau kepemimpinan terpusat. Istilah ini merupakan sebutan umum bagi berbagai gerakan dan kelompok yang memiliki satu kesamaan mendasar, yakni sikap antifasis," ujarnya.
Sara turut menolak pelabelan teroris terhadap dirinya dan demonstran lainnya. Ia mengakui adanya kelompok yang bersedia menggunakan kekerasan, tetapi menegaskan dirinya tidak terlibat.
"Memang ada kelompok yang bersedia menggunakan kekerasan. Itu benar. Namun, saya tidak ada hubungannya dengan mereka," katanya. "Begitu saya melihat kekerasan, saya menjauh. Saya menentangnya," tambahnya.
Tuntutan Berangkat dari Masalah Ekonomi dan Pendidikan
Ketua Together Movement, Arlind Qori, menilai keterlibatan anak muda dalam demonstrasi lebih berkaitan dengan persoalan sosial dan ekonomi daripada pengaruh ideologi tertentu. Partai oposisi berhaluan sosial demokrat tersebut hanya memiliki satu kursi di parlemen Albania.
"Anak-anak muda Albania marah terhadap kondisi sosial-ekonomi saat ini: kemiskinan, banyaknya orang tua mereka yang terpaksa beremigrasi karena tidak mampu menghidupi keluarga, kemerosotan sistem pendidikan, serta minimnya prospek setelah lulus," kata Qori.
Menurutnya, tuntutan utama mahasiswa adalah agar Rama mengundurkan diri, bukan untuk memulai revolusi sosialis.
"Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang radikal. Mereka hanya ingin kepala pemerintahan yang korup mengundurkan diri. Itu tuntutan mendasar dan moderat. Namun, Edi Rama terus merespons tuntutan tersebut dengan kekerasan polisi dan sikap arogan," ujar Qori.
Qirjazi menilai tuduhan campur tangan asing yang dilontarkan Rama berpotensi menjadi strategi politik untuk mengalihkan perhatian dari persoalan utama yang mendorong masyarakat turun ke jalan.
"Ketika pemerintah menghadapi demonstrasi dan ketidakpuasan publik, mengaitkan para demonstran dengan ekstremisme dan pengaruh asing dapat mengalihkan perhatian dari akar persoalan menuju narasi keamanan nasional," katanya.
Ia menjelaskan, narasi tersebut dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap demonstran, melemahkan dukungan publik, serta menjadi pembenaran bagi tindakan represif atas nama hukum dan ketertiban.
Pandangan serupa disampaikan Semanaj. Menurutnya, pemerintah kerap menggunakan narasi kekerasan dan manipulasi untuk mendiskreditkan kelompok yang menyampaikan kritik.
"Demonstrasi digambarkan sebagai aksi kekerasan. Anak-anak muda dicitrakan sebagai pihak yang dimanipulasi, sementara persoalan sah yang mereka angkat, seperti kondisi universitas, biaya kuliah, korupsi, dan minimnya prospek masa depan, menghilang dari agenda pemberitaan," ujarnya.
Meluasnya demonstrasi di Albania menunjukkan bahwa persoalan pendidikan, korupsi, biaya hidup, dan terbatasnya peluang masa depan bagi generasi muda menjadi sumber ketidakpuasan yang belum terselesaikan. Di tengah tuntutan agar Rama mundur, perdebatan mengenai dugaan pengaruh asing juga terus mewarnai respons pemerintah terhadap gerakan mahasiswa.
Protes Anti-Pemerintah di Albania Berujung Bentrokan, Molotov Buat Gedung Pemerintah Membara (Istimewa)