Menhan Inggris Minta Negaranya Siap dalam 1.000 Hari Jika Terjadi Perang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Okt 2026, 08:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Inggris terlihat dengan latar belakang Big Ben di London, Inggris Ilustrasi - Bendera Inggris terlihat dengan latar belakang Big Ben di London, Inggris (Antara)

Ntvnews.id, London - Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan negaranya harus mempersiapkan diri untuk menghadapi dan memenangkan perang dalam 1.000 hari ke depan. Peringatan ini disampaikan di tengah peningkatan kemampuan militer negara-negara yang dianggap memusuhi Inggris.

Dalam artikel yang dimuat surat kabar The Telegraph pada Sabtu, Streeting menyebut pihak-pihak yang berseberangan dengan Inggris berpotensi memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan pada 2030. Kondisi tersebut membuat Inggris bersama sekutu-sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk memperkuat kesiapan pertahanan.

"Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk melancarkan serangan," tulisnya.

"Ini memberi kita waktu sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi kita: bersiap bersama sekutu untuk bertempur dan meraih kemenangan," katanya.

Streeting menegaskan, persiapan menghadapi kemungkinan terburuk menjadi langkah penting untuk mencegah ancaman berkembang menjadi konflik nyata.

"Untuk mencegah skenario terburuk, kita harus bersiap menghadapinya. Prioritas utama saya adalah memastikan negara ini siap untuk bertempur dan memenangkan perang," tambahnya.

Baca Juga: Trump Kembali Klaim AS Kuasai Greenland

Selain potensi konflik militer, Streeting menyoroti berbagai ancaman lain yang dihadapi Inggris. Ancaman tersebut meliputi serangan siber, kejahatan terorganisasi, serta dampak perubahan iklim yang dapat mengganggu infrastruktur penting negara.

Saat diwawancarai BBC, Streeting mengatakan tingkat ancaman yang dihadapi Inggris saat ini tergolong tinggi.

"dibandingkan dengan apa yang pernah terjadi sepanjang hidup saya, atau setidaknya sebagian besar masa hidup saya."

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peluncuran kampanye pemerintah bertajuk "Be Ready" atau Bersiaplah. Kampanye ini mengajak masyarakat menyiapkan persediaan kebutuhan pokok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari apabila terjadi keadaan darurat nasional.

Panduan pemerintah menyarankan masyarakat menyediakan air minum dalam kemasan, makanan tahan lama, uang tunai, serta barang-barang penting lainnya di rumah. Pemerintah menegaskan, program tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketahanan nasional dan bukan didasarkan pada peringatan intelijen tertentu.

Streeting menilai istilah seperti "perang hibrida" dan "ancaman zona abu-abu" belum sepenuhnya menggambarkan bahaya yang ditimbulkan negara-negara yang memusuhi Inggris.

Ia menekankan pentingnya kesiapan rumah tangga dan pelaku usaha dalam menghadapi kemungkinan gangguan maupun keadaan darurat.

"Sangat penting bagi kita untuk bertanya kepada rumah tangga maupun pelaku bisnis: apakah mereka sudah bersiap? Apakah mereka sudah siap siaga? Apakah mereka tahu bagaimana harus merespons jika muncul tantangan-tantangan yang mungkin terjadi?" ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Mirror, Selasa, 27 Oktober 2026.

"Menghadapi ancaman-ancaman tersebut, yang bukan sekadar hipotesis melainkan nyata, dan bukan terjadi di tempat lain melainkan semakin nyata di sini, kita harus meningkatkan upaya dan menanggapi ketahanan nasional serta pertahanan nasional kita dengan serius," tambahnya.

Pemerintah Inggris juga menyoroti kerentanan sistem digital setelah terungkapnya celah keamanan pada perangkat lunak PHP. Insiden yang diumumkan pada Rabu tersebut mendorong pemerintah dan perusahaan di berbagai negara untuk memperkuat sistem keamanan mereka. Peristiwa itu juga memicu jutaan upaya peretasan dan mengakibatkan sejumlah layanan terganggu.

Streeting memperingatkan, ancaman serangan siber berpotensi meningkat seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dapat mempermudah pelaku serangan menembus sistem pertahanan konvensional.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham turut mendorong pemerintah agar lebih proaktif dalam mengantisipasi keadaan darurat. Dalam pertemuan mengenai penanganan kebakaran hutan, ia menilai Inggris sebelumnya berada dalam kondisi "kurang siap" karena cenderung terlambat merespons situasi.

Burnham juga mengumumkan rencana baru penanganan kebakaran hutan yang mencakup pengerahan pesawat militer untuk mendukung upaya penanggulangan.

"Ini bukan soal panik. Ini soal mengambil langkah-langkah yang masuk akal untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang cukup guna membantu Anda bertahan jika terjadi situasi sulit," kata Burnham kepada BBC.

Langkah Inggris tersebut sejalan dengan panduan Komisi Eropa yang diterbitkan pada Maret 2025. Panduan itu mendorong warga Uni Eropa menyiapkan perlengkapan darurat untuk memenuhi kebutuhan selama 72 jam, termasuk makanan, air, uang tunai, dan power bank.

x|close