Ntvnews.id, Jakarta - Pemimpin United Arab List (Ra'am), Mansour Abbas, membuka peluang kerja sama dengan partai-partai oposisi Israel untuk menggantikan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Abbas berharap gabungan kekuatan politik tersebut mampu mengumpulkan mayoritas kursi parlemen atau Knesset agar dapat membentuk pemerintahan baru.
Dilansir Anadolu Agency, Rabu (28/10/2026), Abbas menargetkan partainya bersama kubu oposisi dapat mengamankan sedikitnya 61 dari total kursi Knesset. Jumlah tersebut menjadi ambang batas mayoritas yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan dan mengakhiri kekuasaan Netanyahu.
"Saya berharap kita dapat mengubah pemerintahan ini dan jumlah kursi yang terkumpul mencapai 61 kursi, yakni dari blok oposisi bersama dengan Ra'am," ucap Abbas saat berbicara kepada saluran televisi Israel, Channel 12, pada Rabu (28/10) dini hari.
Abbas menilai komposisi kursi parlemen sementara belum memungkinkan terbentuknya pemerintahan baru. Karena itu, peluang kerja sama antara Ra'am dan partai-partai oposisi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah politik Israel setelah pemilu.
"Dengan jumlah kursi yang kita miliki saat ini, tidak ada pemerintahan yang bisa terbentuk," katanya.
Berdasarkan data sementara Komite Pemilu Pusat Israel yang dirilis pada Rabu (28/10) pukul 06.02 waktu setempat, penghitungan suara yang telah mencapai 41,9 persen menunjukkan koalisi pendukung Netanyahu memperoleh 57 kursi. Sementara itu, kubu oposisi mengantongi 47 kursi, sedangkan partai-partai Arab secara keseluruhan meraih 16 kursi, termasuk Ra'am.
Baca Juga: Samsung Didenda di Korsel, Galaxy S21 dan S22 Disorot Gegara Performa Gaming
Meski masih memimpin perolehan kursi sementara, koalisi Netanyahu belum mencapai mayoritas. Dengan raihan 57 kursi, blok tersebut masih membutuhkan tambahan empat kursi untuk memenuhi syarat minimal 61 kursi Knesset. Di sisi lain, oposisi juga belum memiliki dukungan yang cukup untuk mengambil alih pemerintahan tanpa tambahan kekuatan politik.
Abbas menyebut tingginya partisipasi pemilih Arab dalam pemilu kali ini sebagai sinyal perubahan sikap politik. Menurutnya, kekecewaan dan rasa frustrasi masyarakat kini mulai berkembang menjadi harapan untuk mendorong perubahan pemerintahan.
Namun, upaya membangun koalisi dengan partai-partai oposisi masih menghadapi tantangan. Sejumlah tokoh oposisi, termasuk mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman, sebelumnya menunjukkan penolakan terhadap kerja sama dengan partai Arab.
Menanggapi sikap tersebut, Abbas menyatakan persoalan mengenai kemungkinan kolaborasi politik akan dibicarakan setelah pemilu. Sikap partai-partai oposisi terhadap Ra'am pun berpotensi menjadi penentu apakah gabungan mereka dapat mencapai mayoritas dan menyingkirkan Netanyahu dari pemerintahan.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. (ANTARA/Anadolu) (Antara)