Ntvnews.id , Jakarta - Pagi ini, mendengarkan paparan Mas Sudaryono tentang 100 hari memimpin Badan Gizi Nasional, saya menjadi saksi sesuatu yang langka: seorang pejabat yang bersedia membuka kekurangan lembaganya sendiri.
Di hadapan sebuah program besar, betapa mudahnya memilih hanya memperlihatkan keberhasilan. Mengisi layar dengan angka penerima manfaat. Menampilkan foto anak-anak tersenyum. Lalu membiarkan bagian yang menyakitkan tinggal di belakang layar.
Namun, paparan pagi ini justru membawa persoalan itu ke hadapan kami.
Ada dapur yang tidak layak. Ada pengadaan yang dipersoalkan. Ada uang rakyat yang bocor. Ada pengawasan yang lemah. Bahkan, ada pengakuan bahwa lembaga ini pernah bekerja sendirian dan antikritik.
Baca Juga: BGN Klaim Efisiensi dan Pengembalian Anggaran hingga Rp44 Triliun
Saya membayangkan betapa tidak nyamannya menyampaikan semua itu dari kursi seorang kepala badan. Ketika kita membuka kekurangan lembaga yang kita pimpin, kita juga membuka diri untuk dipertanyakan.
Di situlah saya menemukan arti kerendahan hati._Humility_ dalam jabatan menuntut kesediaan menerima bahwa kewenangan tidak membuat seseorang selalu benar. Bahwa kritik bisa mengandung kebenaran. Bahwa orang tua yang marah, guru yang khawatir, dan masyarakat yang mengeluh layak didengarkan, sekalipun suara mereka membuat kita tidak nyaman.
MBG adalah program yang mulia. Saya tetap percaya itu.
Ada sesuatu yang sangat mendasar dalam keinginan agar anak-anak Indonesia bisa makan dengan layak. Agar seorang anak dapat mengikuti pelajaran tanpa harus menahan lapar. Agar keadaan ekonomi keluarganya tidak menentukan seluruh kesempatan dalam hidupnya.
Namun, justru karena tujuannya begitu mulia, kita harus sanggup mengatakan dengan jujur: program ini sempat tidak dikelola dengan baik.
Baca Juga: Sudaryono Terapkan Transformasi BGN 2.0, MBG Masuk Babak Baru
Kemuliaan tujuan memperbesar tanggung jawab pelaksanaannya. Setiap rupiah yang bocor mengurangi hak seseorang. Setiap kelalaian di dapur bisa sampai ke tubuh seorang anak.
Di antara semua halaman paparan itu, ada satu kalimat yang paling lama tinggal dalam pikiran saya: “Satu anak pun masih terlalu banyak.” Saya berhenti pada kalimat itu.
Bagi sebuah lembaga, korban bisa tercatat sebagai angka dalam laporan. Bagi ayah dan ibunya, anak itu adalah seluruh dunia. Ia adalah seseorang yang pagi tadi dilepas ke sekolah dengan kepercayaan bahwa orang-orang dewasa akan menjaganya.
Bayangkan kecemasan ketika kabar yang datang justru mengatakan anak mereka sakit setelah makan.
Kepercayaan yang terluka seperti itu membutuhkan lebih dari penjelasan. Ia membutuhkan perubahan yang bisa dirasakan.
Mengakui kesalahan baru separuh perjalanan. Separuh berikutnya menuntut kekuatan yang mungkin lebih besar: memperbaikinya.
Baca Juga: BGN Ungkap 3 Penyebab Dana Operasional SPPG MBG Tidak Cair
Menghentikan pengadaan bermasalah. Menertibkan dapur. Memverifikasi data dan mencoret yang fiktif. Menahan pencairan dana ketika pertanggungjawaban belum disampaikan. Memperketat keamanan pangan. Membuka pintu bagi pengaduan masyarakat.
Langkah-langkah itu terdengar administratif. Namun, di ujung setiap prosedur ada seorang anak yang harus dilindungi.
Di balik kewajiban mencantumkan batas waktu konsumsi, ada makanan yang harus tetap aman ketika dibuka. Di balik pemeriksaan dapur, ada orang tua yang menitipkan kepercayaan. Di balik pengembalian uang rakyat, ada hak masyarakat yang harus dijaga.
Pembenahan juga berarti bersedia mengecewakan mereka yang selama ini diuntungkan oleh keadaan yang salah. Di situ ketegasan seorang pemimpin diuji. Ia harus bertahan ketika keputusan yang benar membuatnya kehilangan kenyamanan, bahkan dukungan.
Saya tentu tidak pulang dengan keyakinan bahwa semua persoalan telah selesai. Seratus hari terlalu singkat untuk menjamin perubahan ini akan bertahan. Paparan harus terus diuji oleh kenyataan di dapur, di sekolah, dan di meja makan anak-anak kita.
Tetapi pagi ini saya mendapatkan alasan untuk berharap. Sulit mencari pejabat yang memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan. Lebih sulit lagi menemukan yang punya kekuatan untuk membenahinya.
Kesan itulah yang saya dapatkan dari Mas Sudaryono pagi ini. Semoga keberanian itu bertahan. Sebab, di luar ruang paparan, ada anak-anak yang menunggu makan siang. Mereka berhak menerima makanan yang aman, bergizi, dan disiapkan dengan sepenuh tanggung jawab.
Kepada merekalah akhirnya seluruh pekerjaan ini harus dipertanggungjawabkan.
Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan Dirgayuza Setiawan menghadiri peluncuran buku (ANTARA/HO-Bakom)