Ntvnews.id, Jakarta - Komisi Nasional Pengendalian Narkotika Tiongkok (National Narcotics Control Commission/NNCC) mengapresiasi keberhasilan Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai dalam membongkar jaringan peredaran narkotika internasional di Aceh.
Operasi lintas negara tersebut berhasil mengungkap laboratorium gelap sabu dengan barang bukti mencapai 1,2 ton serta menangkap 11 tersangka di Indonesia.
Apresiasi itu disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal NNCC sekaligus Wakil Direktur Jenderal Biro Pengendalian Narkotika Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, Lan Weihong, saat bertemu Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Lobby Utama Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
Lan Weihong menjelaskan, pengungkapan tersebut merupakan hasil penyelidikan intensif terhadap jaringan kejahatan yang diduga menyelundupkan narkotika cair dari kawasan Myanmar, Thailand, dan Laos untuk diedarkan ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Informasi intelijen yang dihimpun otoritas Tiongkok kemudian diteruskan kepada pihak Indonesia untuk memperkuat penyelidikan dan mendukung langkah penegakan hukum terhadap jaringan tersebut.
“Pada bulan September tahun ini, NNCC Tiongkok sudah melaporkan informasi tersebut kepada BNN Indonesia dan kedua belah pihak menentukan melakukan kerja sama itu bisa bersama-sama memberantas tindak pidana narkotika lintas negara,” ujar Lan Weihong.
Operasi yang dilaksanakan pada 21 Oktober 2026 berhasil membongkar laboratorium gelap pembuatan sabu di Aceh. Dalam pengungkapan tersebut, aparat menyita barang bukti narkotika jenis sabu seberat 1,2 ton dan menangkap 11 tersangka di Indonesia.
Pada saat yang sama, otoritas Tiongkok menangkap tujuh orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan jaringan narkotika tersebut di wilayah Tiongkok.
Lan Weihong menilai keberhasilan operasi ini memperlihatkan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi sindikat narkotika yang menjalankan aktivitas lintas yurisdiksi.
Menurutnya, pertukaran informasi intelijen, penyelidikan profesional, serta koordinasi antaraparat penegak hukum menjadi faktor penting dalam mengungkap jaringan yang beroperasi di beberapa negara.
“Pihak Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia dalam kasus kerja sama penegakan kasus ini, kita menunjukkan kapasitas penyelidikan yang sangat profesional, operasi gabungan yang kompak, pengambilan keputusan yang tegas, saling pengertian, dan juga akhirnya bisa mengungkapkan kasus ini dan mencapai hasil yang nyata dan luar biasa,” katanya.
Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan, Polri akan terus memperkuat kerja sama internasional untuk memberantas peredaran narkotika, khususnya jaringan sindikat yang memanfaatkan jalur perdagangan lintas negara.
Menurut Suyudi, pengungkapan laboratorium sabu di Aceh merupakan hasil kolaborasi antara sejumlah lembaga penegak hukum Indonesia dengan dukungan NNCC Tiongkok.
“Yang mana beberapa waktu lalu kita telah melakukan pengungkapan secara bersama antara Polri, BNN Republik Indonesia, Bea Cukai, dan juga tentunya atas dukungan besar dari NNCC,” ujar Kapolri.
Kapolri menambahkan, pengungkapan tersebut tidak menghentikan proses penyidikan. Polri masih mengembangkan perkara untuk menelusuri pihak-pihak yang diduga berperan sebagai pendukung dan pendana, sekaligus mendalami kemungkinan keterkaitan dengan jaringan narkotika lainnya.
“Kami juga akan senantiasa mendukung Pemerintah Tiongkok dalam rangka mengungkap jaringan besarnya. Dan kami saat ini masih melakukan pengembangan terhadap kasus yang ada di Aceh ini terhadap para pendukung, para pendana, dan juga kaitan dengan jaringan yang satu lagi yang di Medan,” tegasnya.
Kapolri menekankan bahwa kolaborasi dengan mitra internasional akan terus ditingkatkan untuk mempersempit ruang gerak sindikat narkotika yang memanfaatkan jalur lintas negara. Kerja sama ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan masyarakat Indonesia dan kawasan Asia dari ancaman peredaran gelap narkotika.
“Kami sangat serius untuk melakukan upaya pemberantasan narkotika di Indonesia. Kolaborasi ini akan terus kita tingkatkan dalam rangka keamanan di Indonesia dan juga di beberapa wilayah yang ada di sekitar kawasan Asia,” tutup Kapolri.
Pertemuan bilateral tersebut menegaskan komitmen Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat pertukaran informasi serta kerja sama penegakan hukum dalam pemberantasan narkotika.
Sinergi dengan negara mitra diharapkan dapat membantu mengungkap jaringan secara menyeluruh, mulai dari pelaku lapangan hingga pihak yang diduga mendanai dan mengendalikan operasional sindikat.
NNCC Tiongkok Apresiasi Polri Ungkap Jaringan Narkotika Internasional di Aceh (Humas Polri)