Ntvnews.id, Tokyo - Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi meminta Rusia segera membebaskan seorang jurnalis asal Jepang yang ditahan di negara tersebut atas dugaan spionase. Tokyo juga mendesak Moskow mengambil langkah konkret untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Ukraina.
Dilansir dari AFP, Senin, 2 November 2026, Desakan itu disampaikan Motegi saat bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Jumat, 30 Oktober 2026, di sela-sela Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Atlanta, Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang, kedua pejabat tersebut membahas sejumlah isu hubungan bilateral serta perkembangan perang di Ukraina.
Dalam pertemuan itu, Motegi menyampaikan protes diplomatik atau demarche sekaligus pandangan pemerintah Jepang terkait berbagai persoalan terkini dalam hubungan kedua negara.
Secara khusus, ia "menuntut dengan tegas" agar Rusia segera membebaskan warga negara Jepang yang ditahan di Oblast Sakhalin karena dituduh melakukan aktivitas spionase.
Baca Juga: Ratu Thailand Terbangkan Pesawat Boeing 737 Sendiri Saat Kunjungan ke Jepang
Sebelumnya, Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) pada Oktober 2026 menuduh seorang koresponden surat kabar Hokkaido Shimbun yang bertugas di Yuzhno-Sakhalinsk mengumpulkan serta menyimpan informasi mengenai kemampuan pertahanan Rusia untuk kepentingan intelijen Jepang.
FSB menilai informasi tersebut berpotensi mengancam keamanan nasional Rusia. Atas dasar itu, otoritas keamanan Rusia membuka penyelidikan pidana terhadap jurnalis yang bersangkutan.
Pengadilan Distrik Lefortovo di Moskow kemudian memutuskan untuk menahan jurnalis tersebut selama proses penyelidikan berlangsung.
Selain membahas penahanan jurnalis, Motegi turut menyampaikan sikap Jepang terhadap perang yang berlangsung di Ukraina. Tokyo kembali meminta Rusia mengambil langkah untuk mengakhiri konflik melalui penyelesaian yang adil dan berkelanjutan.
Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan Motegi "sekali lagi menyerukan dengan tegas agar Rusia mengambil langkah positif untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan di Ukraina."
Meski hubungan kedua negara tengah menghadapi ketegangan, Motegi dan Lavrov sepakat untuk tetap menjaga komunikasi, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan kementerian tersebut.
Hubungan Jepang dan Rusia mengalami kemerosotan sejak Moskow melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Sebagai respons atas tindakan Rusia, pemerintah Jepang memberlakukan berbagai sanksi terhadap Moskow.
Bendera Jepang (Antara)