Ntvnews.id, Pyongyang - Korea Utara (Korut) memamerkan sejumlah persenjataan terbarunya, mulai dari rudal, peluncur roket multilaras, hingga drone tempur dalam sebuah demonstrasi senjata. Pemimpin Korut Kim Jong Un yang hadir dalam kegiatan tersebut meminta pengembangan teknologi pesawat nirawak atau drone dan kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer dipercepat.
Dilansir dari AFP, Senin, 2 November 2026, kegiatan tersebut diberitakan kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA). Demonstrasi senjata itu berlangsung sehari setelah militer Korea Selatan (Korsel) melaporkan adanya peluncuran belasan rudal balistik jarak pendek oleh Pyongyang ke arah Laut Timur atau Laut Jepang.
Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah peluncuran rudal yang terdeteksi militer Seoul tersebut berkaitan dengan demonstrasi persenjataan yang digelar Korut.
Dalam laporan KCNA, Kim Jong Un menegaskan pentingnya penguasaan teknologi drone untuk menghadapi perkembangan pola peperangan modern.
"Upaya untuk meraih keunggulan mutlak dalam teknologi drone merupakan pilihan yang tidak terelakkan, mengingat pola peperangan modern yang terus berubah." jelasnya.
Baca Juga: Korea Utara Lakukan Gebrakan di Kala Keteganan Global
Kim juga menekankan bahwa kekuatan militer menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas dan mencegah terjadinya konflik.
"Kekuatan pada hakikatnya berarti perdamaian, dan perdamaian hanya dapat dijamin melalui kekuatan," tegas Kim Jong Un dalam pernyataannya.
Sejumlah persenjataan yang diperlihatkan dalam demonstrasi tersebut meliputi drone kamikaze, drone multiguna yang dilengkapi kemampuan menembakkan rudal udara-ke-darat, rudal jelajah, serta sistem peluncur roket multilaras berkaliber 600 milimeter.
KCNA mengklaim drone tempur dan rudal jelajah yang diuji dalam kegiatan itu berhasil menghantam sasaran di sebuah pulau dengan tingkat ketepatan mencapai 100 persen.
Pameran persenjataan tersebut melanjutkan rangkaian pengujian militer yang sebelumnya dilakukan Pyongyang. Beberapa di antaranya mencakup pengujian sistem torpedo berpemandu presisi terbaru dan rudal hipersonik jarak menengah.
Pemerintah Korut mengklaim kedua sistem persenjataan tersebut telah mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di tengah pengembangan kekuatan militernya, Korut juga menghadapi peningkatan ketegangan dengan Korea Selatan. Hubungan kedua negara kembali memanas setelah insiden ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ), kawasan perbatasan yang dijaga ketat dan memisahkan wilayah kedua negara. Sedikitnya tiga personel militer Korsel dilaporkan mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut.
Hasil penyelidikan bersama yang dilakukan Korea Selatan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal bulan ini menyimpulkan bahwa ranjau darat yang meledak di kawasan DMZ tersebut dipasang oleh Korut. Namun, Pyongyang dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Pemerintah Seoul menilai tindakan Korut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap Perjanjian Gencatan Senjata". Korsel pun mendesak Pyongyang menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang melukai para tentaranya.
Namun, tuntutan tersebut mendapat respons keras dari Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un. Ia mengecam desakan Korea Selatan tersebut sebagai tindakan "tercela".
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un meninjau latihan militer yang dilakukan oleh tentara Korea Utara 10 Oktober 2022. Latihan tersebut dilaporkan mencakup peluncuran rudal balistik untuk menguji efektivitas kemampuan nuklir negara itu. (Antara)