Menteri PPPA Tegaskan Pembalut Bukan Barang Mewah: Kebutuhan Dasar yang Wajib

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Nov 2026, 12:59
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. ANTARA/HO - KemenPPPA Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. ANTARA/HO - KemenPPPA (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa pembalut perempuan bukanlah barang mewah, melainkan kebutuhan biologis utama yang berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan. Penegasan ini disampaikan menyusul ramainya perbincangan publik terkait isu pembalut di ruang publik.

"Ruang publik saat ini ramai membahas isu pembalut perempuan. Di tengah pro dan kontra, satu hal yang harus kita tegaskan: pembalut bukanlah barang mewah," ujar Arifatul dalam keterangannya, 2 November 2026.

Baca Juga: KemenPPPA Catat Kemajuan Pemberdayaan Perempuan di Era Prabowo-Gibran

Arifatul menyoroti pentingnya keberadaan pembalut, terutama dalam situasi darurat atau bencana. Menurutnya, pembalut harus selalu menjadi salah satu perlengkapan utama yang disiapkan dalam paket dignity kit bagi para penyintas bencana perempuan.

Ia menjelaskan bahwa Kementerian PPPA secara konsisten terus melakukan advokasi kepada berbagai pihak penyedia bantuan bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kebutuhan khusus perempuan tetap menjadi prioritas di tengah kondisi darurat.

"Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tidak pernah berhenti melakukan advokasi pada pihak-pihak yang memberikan bantuan bencana bahwa perempuan tetap mengalami menstruasi bulanan meskipun berada dalam kondisi darurat," tambahnya.

Baca Juga: KemenPPPA Dukung Vonis 10 Tahun Penjara untuk Kepala Daycare Little Aresha

Lebih lanjut, Menteri PPPA mengajak masyarakat untuk membangun kepedulian bersama serta menghapus stigma dan rasa malu yang kerap melekat pada siklus menstruasi. Setiap perempuan, kata dia, berhak mendapatkan akses terhadap kebutuhan menstruasi yang aman dan layak tanpa diskriminasi.

"Sudah sepatutnya kita membangun kepedulian bahwa setiap perempuan berhak mendapatkan akses terhadap kebutuhan menstruasi yang aman, layak, dan tanpa stigma maupun rasa malu," tegas Arifatul.

Di akhir keterangannya, Kementerian PPPA mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan perempuan. Pemenuhan kebutuhan dasar ini dinilai sebagai bagian penting dalam mewujudkan kehidupan yang lebih setara dan bermartabat.

"Mari kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan perempuan. Memenuhi kebutuhan dasar perempuan juga merupakan bagian dari mewujudkan kehidupan yang lebih setara dan bermartabat," pungkasnya.