Serangan Siber Sasar Kulkas Supermarket di Eropa hingga AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 09:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi hacker. (Shutterstock) Ilustrasi hacker. (Shutterstock)

Ntvnews.id, Jakarta - Serangan siber kembali menyasar sistem pendingin di sejumlah supermarket di Eropa. Peretasan tersebut menyebabkan suhu lemari es dan freezer meningkat secara tiba-tiba sehingga berbagai produk makanan yang tersimpan di dalamnya harus dibuang.

Dilansir dari The Guardian, Selasa, 3 November 2026, insiden ini dilaporkan terjadi di sejumlah supermarket di Swedia, Belgia, Belanda, dan Luksemburg.

Jaringan ritel Coop di Swedia mengonfirmasi kepada surat kabar Aftonbladet bahwa enam gerainya terdampak gangguan sistem pendingin tersebut pada Senin, 1 November 2026.

Sementara itu, perusahaan ritel Belanda Ahold Delhaize mengungkapkan bahwa puluhan supermarket miliknya di Belgia dan Luksemburg mengalami gangguan pada lemari es dan freezer akibat "insiden IT". Juru bicara perusahaan, Sarah De Meester, menyatakan pihaknya tengah menyelidiki kejadian tersebut.

Pada bulan sebelumnya, Ahold Delhaize juga sempat melaporkan dugaan aktivitas serangan siber kepada kepolisian Belanda.

Surat kabar Belgia Le Soir melaporkan, puluhan gerai ritel turut mengalami gangguan. Sejumlah toko yang terdampak di antaranya lima gerai Spar, beberapa toko Shop & Go yang terintegrasi dengan stasiun pengisian bahan bakar Q8, serta sejumlah minimarket Proxy Delhaize.

CEO Sabcobel, Stephan Moelans, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan teknisi untuk menangani gangguan tersebut sejak dini hari.

Baca Juga: Menkeu Ungkap Kelemahan Coretax, Kini Diperbaiki Hacker Lokal

"Kami memobilisasi teknisi mulai pukul 01.00 dini hari. Kami menghabiskan semalam untuk memutus sambungan instalasi yang terdampak," kata CEO Sabcobel, Stephan Moelans.

Laporan serupa juga muncul dari sejumlah media lokal di Irlandia. Sebanyak 13 supermarket SuperValu dilaporkan mengalami gangguan pada sistem pendinginnya.

Juru bicara perusahaan menjelaskan bahwa masalah tersebut hanya memengaruhi jenis perangkat pendingin tertentu. Sistem pemantauan internal perusahaan mendeteksi gangguan itu sehingga langkah penanganan segera dilakukan.

"Insiden ini terbatas pada model pendingin tertentu. Sistem pengawas kami memberi peringatan mengenai ini dan kami langsung mengambil tindakan," kata juru bicara perusahaan.

Sebagai langkah antisipasi, sejumlah peritel menarik produk makanan dari lemari es dan freezer yang terdampak untuk mencegah risiko terhadap konsumen.

"Keamanan konsumen adalah prioritas utama kami, dan konsumen bisa tenang karena produk kami telah disimpan di suhu yang aman," ucapnya, sambil menambahkan bahwa penyelidikan telah dimulai menyusul peristiwa ini.

Rentetan gangguan tersebut terjadi setelah kepolisian Prancis pada Oktober lalu melaporkan peretasan terhadap sistem pendingin di sekitar 700 supermarket. Serangan berskala besar itu mengakibatkan kerugian signifikan akibat rusaknya berbagai produk makanan yang memerlukan penyimpanan bersuhu rendah.

Dalam insiden di Prancis, peretas diduga mengubah pengaturan suhu ribuan freezer, lemari es, dan perangkat pendingin dari jarak jauh. Temperatur yang semula berada pada kisaran minus 27 derajat Celsius bahkan meningkat hingga lebih dari 50 derajat Celsius.

Sejumlah jaringan ritel besar, termasuk Intermarché, Coopérative U, Carrefour, Leclerc, dan Monoprix, masuk dalam daftar supermarket yang terdampak.

Akibat kejadian tersebut, berbagai gerai terpaksa memusnahkan persediaan daging, susu, dan makanan beku dalam jumlah besar. Kerugian masing-masing toko diperkirakan mencapai puluhan ribu euro hingga lebih dari 130.000 euro. Bahkan, dua gerai di wilayah Alsace mencatat kerugian hingga 270.000 euro.

Dugaan serangan siber serupa juga ditemukan di Amerika Serikat. Pada akhir Oktober, empat pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah freezer di pangkalan militer mengalami kerusakan sistem pada Agustus lalu.

Sedikitnya enam komisariat militer dilaporkan terdampak gangguan tersebut. Pentagon menduga kejadian itu berkaitan dengan metode peretasan yang sebelumnya menyerang sistem pendingin supermarket di Prancis.