Gadi Eisenkot Tolak Gabung Kabinet Netanyahu

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 12:30
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar sekaligus mantan Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menyampaikan pidato di kantor pusat partai tersebut di Tel Aviv, Israel, Rabu (28/10/2026). Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar sekaligus mantan Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF), menyampaikan pidato di kantor pusat partai tersebut di Tel Aviv, Israel, Rabu (28/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemimpin Partai Yashar, Gadi Eisenkot, secara tegas menyatakan keengganannya untuk bergabung dengan pemerintahan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, kendati mendapat desakan atau permintaan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekalipun.

Berdasarkan laporan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, yang dirilis pada Senin (2/11), sikap tersebut disampaikan Eisenkot dalam sebuah pertemuan tertutup baru-baru ini menurut keterangan sejumlah sumber anonim.

"Saya tidak akan duduk dalam pemerintahan yang dipimpin Netanyahu," ucap Eisenkot, sebagaimana dikutip oleh KAN.

Ia juga menegaskan posisinya apabila suatu waktu diundang oleh pemimpin tertinggi AS. "Jika Trump mengundang saya, saya akan menghormati presiden dan hadir. Namun, saya akan menegaskan bahwa ini menyangkut urusan dalam negeri Israel dan saya akan mencegah segala bentuk campur tangan," ujarnya.
 

Pernyataan tegas ini mencuat sebagai respons atas pernyataan Netanyahu sebelumnya yang mengaku terbuka terhadap wacana pembentukan pemerintahan persatuan yang luas, dengan syarat dirinya tetap memegang kendali sebagai pemimpin pemerintahan. Di sisi lain, Netanyahu secara konsisten menolak opsi koalisi yang harus bergantung pada sokongan dari dua partai utama Arab, yakni Ra'am dan Joint List.

Dinamika politik Israel sendiri kian memanas pasca-pemilu parlemen pekan lalu. Berdasarkan hasil perolehan suara, blok pendukung Netanyahu hanya mampu mengamankan 53 kursi, sedangkan kubu partai-partai oposisi dari kelompok Yahudi mengantongi 48 kursi, dan blok partai-partai Arab meraih 19 kursi. Komposisi tersebut membuat tidak satu pun kubu yang berhasil mengamankan suara mayoritas mutlak dari total 120 kursi Knesset.

Di tengah kebuntuan politik ini, sejumlah faksi oposisi seperti Partai Together yang dipimpin Naftali Bennett, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, serta Partai Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman sepakat untuk merekomendasikan Gadi Eisenkot sebagai figur mandiri untuk membentuk pemerintahan baru.

Dukungan tersebut diproyeksikan dapat melonjak hingga mencapai 67 kursi di parlemen jika dua faksi partai Arab turut memberikan rekomendasi yang sama.
 

Kendati demikian, jalan menuju pembentukan koalisi masih menemui jalan terjal. Penolakan keras dari Avigdor Lieberman untuk bergabung dalam pemerintahan yang melibatkan partai Arab atau mengandalkan dukungan mereka masih menjadi ganjalan utama.

Menghadapi situasi pelik ini, para pemimpin oposisi dijadwalkan melangsungkan pertemuan pada Selasa guna menyamakan visi dan menyelaraskan posisi politik. Agenda konsolidasi ini krusial sebelum Presiden Israel Isaac Herzog memulai rangkaian konsultasi resmi selama dua hari bersama seluruh faksi parlemen yang dijadwalkan pada Rabu.
 
(Sumber: Antara)
 

TERKINI

Load More