Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman perang siber. Peringatan tersebut disampaikan menyusul laporan dugaan serangan siber yang terjadi di sejumlah negara, termasuk kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.
Dalam keterangannya di hadapan parlemen pada Selasa, 3 November 2026, Anwar mengingatkan bahwa ancaman keamanan siber tidak hanya berpotensi terjadi di negara-negara lain. Malaysia juga memiliki risiko menjadi sasaran sehingga masyarakat diminta tidak mengabaikan perkembangan situasi tersebut.
"Jangan berasumsi bahwa ancaman-ancaman ini jauh dari kita. Dewan Keamanan Nasional (MKN) menyarankan kemarin agar saya membuat pernyataan hari ini untuk mengingatkan para anggota parlemen yang terhormat dan masyarakat umum bahwa kita tidak boleh berpikir ancaman ini jauh dari kita, karena apa yang terjadi di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang telah mengejutkan negara-negara tersebut," kata Anwar, dikutip dari Malay Mail, Rabu, 4 November 2026.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Malaysia dijadwalkan mengadakan pertemuan bersama seluruh departemen pada Selasa malam. Rapat tersebut akan dipimpin Sekretaris Utama Pemerintah Tan Sri Shamsul Azri Abu Bakar.
Baca Juga: AS Panggil Dubes Malaysia Usai PM Anwar Ibrahim Usir Warga Israel
Selain itu, Bank Negara Malaysia juga berencana menggelar pertemuan khusus dengan seluruh lembaga keuangan di negara tersebut guna membahas potensi ancaman yang dapat mengganggu sektor finansial.
Menanggapi pertanyaan anggota parlemen Ronald Kiandee, Anwar menjelaskan bahwa perkembangan Malaysia sebagai salah satu pusat digital regional justru meningkatkan risiko negara tersebut menjadi target serangan siber.
Pemerintahan Anwar selama ini mendorong transformasi ekonomi Malaysia menuju negara berpendapatan tinggi dengan menjadikan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu sektor andalan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemberian insentif pajak bernilai miliaran ringgit untuk menarik investasi asing.
Sejumlah perusahaan teknologi global, termasuk Google dan Nvidia, telah mengucurkan investasi di Malaysia, khususnya dalam pengembangan teknologi digital dan industri cip.
Anwar mengkhawatirkan kemajuan infrastruktur digital Malaysia yang semakin berkembang dan mampu bersaing dengan negara-negara Eropa justru membuka peluang meningkatnya ancaman serangan siber.
Untuk memperkuat langkah pencegahan, pemerintah Putrajaya juga akan menggelar pengarahan tertutup mengenai keamanan nasional bagi seluruh anggota parlemen. Pertemuan tersebut akan dikoordinasikan oleh Dewan Keamanan Nasional dan direncanakan berlangsung dalam beberapa hari mendatang.
"Saya ingin menekankan bahwa atas nama pemerintah, setiap hari, semua lembaga, menteri, dan kementerian diminta terus menjalankan tugas mereka guna memastikan koordinasi yang efektif dan bahwa daerah perkotaan di bawah pengawasan mereka yang sepenuhnya siap," tegas Anwar.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (Antara)