Netanyahu Kehilangan Dukungan Partai Yahudi Ortodoks, Posisi Kian Terancam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Nov 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Peluang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk kembali mempertahankan kekuasaan semakin sulit setelah salah satu partai Yahudi ultra-Ortodoks memutuskan menarik dukungannya. Partai tersebut juga tidak memberikan rekomendasi kepada Gadi Eisenkot, rival politik Netanyahu, untuk membentuk pemerintahan baru.

Dilansir dari AFP, Jumat, 6 November 2026, Partai United Torah Judaism, yang selama ini menjadi salah satu kekuatan politik utama perwakilan pemilih Yahudi ultra-Ortodoks sekaligus sekutu lama Netanyahu dalam koalisi pemerintahan, memilih bersikap netral. Mereka memutuskan tidak mendukung kandidat mana pun dalam proses pembentukan pemerintahan Israel.

Di sisi lain, sebuah partai yang dipimpin kelompok Arab justru menyatakan dukungan kepada kubu Eisenkot.

Padahal, Eisenkot hingga kini masih menolak kemungkinan membentuk pemerintahan bersama dua partai yang mewakili kelompok Arab. Kendati demikian, salah satu partai tersebut telah menyatakan dukungannya kepada Eisenkot, sementara partai lainnya diperkirakan segera mengambil langkah serupa.

Pemilihan umum Israel yang berlangsung pada 27 Oktober lalu berakhir tanpa menghasilkan pemenang mayoritas. Baik Netanyahu maupun Eisenkot sama-sama gagal mengumpulkan jumlah kursi yang cukup untuk menguasai parlemen.

Baca Juga: Partai Arab Tolak Gabung Koalisi Eisenkot, Siap Dukung Upaya Lengserkan Netanyahu

Menyikapi hasil tersebut, Presiden Israel Isaac Herzog akan mengundang Netanyahu dan Eisenkot untuk menentukan siapa yang dinilai paling berpeluang membentuk pemerintahan berikutnya. Herzog juga telah menggelar konsultasi dengan sejumlah partai politik yang memperoleh kursi lebih sedikit.

Herzog memiliki tenggat waktu hingga 11 November untuk menetapkan kandidat yang akan diberi mandat membentuk pemerintahan. Selama proses tersebut berlangsung, Netanyahu masih menjalankan tugas sebagai perdana menteri dalam pemerintahan sementara.

Status pemerintahan sementara itu akan berlanjut sampai terbentuk koalisi baru. Apabila tidak ada kandidat yang mampu membentuk pemerintahan, Israel berpotensi kembali menggelar pemilihan umum.

Sebelumnya, Herzog telah meminta seluruh kekuatan politik di Israel mengupayakan berbagai cara agar kebuntuan politik tidak berujung pada pemilu ulang.

"Siapa pun yang berpikiran jernih hanya perlu melihat tantangan keamanan dan diplomatik di hadapan kita, perubahan kawasan di sekitar kita, serta mengingat berbagai persoalan yang memecah belah kita dari dalam, untuk memahami bahwa tanggung jawab yang sangat besar kini berada di pundak kita," ujar Herzog.

Dalam perolehan suara, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu berhasil mendapatkan kursi terbanyak dibandingkan partai politik lainnya. Partai tersebut mengamankan 27 kursi dari total 120 kursi di parlemen Knesset.

Namun, capaian itu belum cukup untuk mempertahankan dominasi koalisi religius-nasionalis yang selama ini mendukung Netanyahu. Secara keseluruhan, koalisi tersebut hanya memperoleh 53 kursi.

Sementara itu, kelompok oposisi anti-Netanyahu yang dipimpin Eisenkot dan terdiri dari empat partai mengumpulkan 48 kursi. Adapun dua partai yang mewakili komunitas minoritas Arab di Israel berhasil memperoleh total 19 kursi.

Hasil tersebut membuat peta politik Israel semakin terfragmentasi dan memperbesar ketidakpastian mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan selanjutnya.