Hotspot Karhutla Melonjak Jadi 338 Titik, Kalteng Tertinggi dengan 85 Titik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Nov 2026, 16:56
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Petugas padamkan api di karhutla Gunung Bromo pada September 2026. Petugas padamkan api di karhutla Gunung Bromo pada September 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali mengalami peningkatan. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendeteksi sebanyak 338 hotspot hingga Kamis (5/11/2026) pukul 21.00 WIB. Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 85 titik.

Berdasarkan data pemantauan Kemenhut, jumlah tersebut bertambah 123 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 215 hotspot. Peningkatan juga terjadi di enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla. Jumlah titik panas di wilayah tersebut naik dari 41 menjadi 86 titik.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menyebut lonjakan hotspot menjadi perhatian pemerintah, khususnya dalam memperkuat upaya pengendalian kebakaran di Kalimantan Tengah.

Di provinsi tersebut, jumlah titik panas meningkat dari 37 menjadi 85 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan terdeteksi memiliki satu hotspot. Adapun Jambi, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Riau tidak mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

"Jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Seluruh indikasi tetap harus diverifikasi langsung di lapangan," ujar Ristianto dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

Meski demikian, aktivitas pemadaman di sejumlah daerah masih terus berlangsung. Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut per 5 November menunjukkan petugas masih berjibaku menangani kebakaran di Tanjung Taruna dan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Kondisi di kedua lokasi tersebut belum sepenuhnya terkendali. Kepulan asap masih banyak ditemukan di Tanjung Taruna, sedangkan api di Jabiren belum berhasil dipadamkan seluruhnya. Kedua wilayah itu merupakan kawasan gambut yang mengalami kebakaran di lapisan permukaan hingga bawah tanah.

Baca Juga: Pemerintah Tambah Bank Penempatan DHE SDA Jadi 16, dari Mandiri hingga Citibank

Penanganan serupa juga dilakukan di Sumatera Selatan. Walaupun tidak terdeteksi hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, petugas masih melakukan pemadaman di Pulau Geronggang dan Talang Rimba, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Api di Talang Rimba masih menyala sehingga membutuhkan penanganan lanjutan. Sementara itu, kebakaran di Pulau Kabai, Kabupaten Ogan Ilir, telah berhasil dipadamkan.

Di Kalimantan Timur, upaya pemadaman juga masih berlangsung di Desa Sepaso Timur, Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan laporan terakhir, api di kawasan tersebut belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.

Menhut Pantau Langsung Penanganan Karhutla

Meningkatnya titik panas di Kalimantan Tengah turut mendapat perhatian langsung Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Pada Kamis (5/11/2026), Raja Juli tiba di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, untuk menerima laporan perkembangan penanganan karhutla sekaligus memantau tindak lanjut kecelakaan helikopter Mi-17V5.

Helikopter milik TNI Angkatan Darat itu mengalami kecelakaan pada 4 November 2026 ketika menjalankan misi pemadaman melalui metode water bombing untuk membantu penanganan karhutla di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting.

Dalam kesempatan tersebut, Menhut menyampaikan belasungkawa atas gugurnya sejumlah kru yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan. Ia juga memastikan personel yang selamat mendapatkan penanganan medis secara optimal.

Kunjungan Raja Juli ke Kalimantan Tengah sekaligus menjadi bagian dari pengawasan terhadap upaya pengendalian karhutla di tengah bertambahnya jumlah hotspot. Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi lintas lembaga, mulai dari TNI, Polri, BNPB, pemerintah daerah, hingga unsur terkait lainnya.

Sementara itu, Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, pelaku usaha, dan relawan masih melakukan berbagai langkah penanganan di lapangan.

Upaya tersebut mencakup patroli kawasan rawan, pemeriksaan langsung terhadap indikasi titik panas atau ground check, pemadaman, pembasahan lahan, penyisiran bara api, hingga proses mopping up dan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.