Terang dari Ujung Selatan Pulau Jawa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Nov 2026, 22:09
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Ilustrasi rumah Ilustrasi rumah (Tangkapan layar Tiktok @permanaagus_)

NTVNews.id, Jakarta - Sekitar tahun 2000-an, senja di sebuah kampung kecil di ujung selatan Pulau Jawa selalu punya cerita yang sama.

Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan, cahaya keemasan yang sejak pagi menyelimuti rumah-rumah berdinding anyaman bambu mulai menghilang, suara burung pulang ke sarang berganti dengan desir angin menyusup melalui celah-celah dinding. Kampung itu perlahan kehilangan cahaya.

Bukan karena malam datang terlalu cepat. Bukan pula karena langit sedang mendung, tetapi di sana malam memang selalu berarti gelap.

Puluhan keluarga yang tinggal di rumah-rumah sederhana itu hanya mengandalkan lampu cempor, sebuah lampu kecil berbahan kaleng bekas, diisi minyak tanah, lalu diberi sumbu yang menyala dengan api mungil.

Tetapi cahaya cempor itu tak pernah benar-benar mampu mengusir gelap. Ia hanya menciptakan lingkaran kecil penerangan, cukup untuk menyuapi anak, menyiapkan makan malam, atau sekadar mencari sesuatu di sudut rumah. Di luar lingkaran cahaya itu, malam tetap saja menjadi milik kegelapan.

Membiarkan lampu cempor menyala semalaman berarti menghabiskan lebih banyak minyak tanah. Mematikannya berarti menyerahkan seluruh isi rumah kepada gelap.

Jika dibiarkan menyala, asapnya akan meninggalkan jejak hitam. Lubang hidung menghitam ketika bangun pagi, dan langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu pun perlahan berubah warna, menyimpan bekas asap yang sulit dibersihkan, tak elok dilihat.

Entah karena jaringan listrik belum sampai, atau karena biaya pemasangan yang belum mampu dijangkau. Yang pasti, pada masa itu, cahaya dari kabel-kabel listrik belum menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Tiang Listrik Membawa Harapan

Petugas PLN melakukan penyambungan listrik tegangan rendah agar dapat melistriki rumah rumah masyarakat di Dusun Noemuke. <b>(Istimewa)</b> Petugas PLN melakukan penyambungan listrik tegangan rendah agar dapat melistriki rumah rumah masyarakat di Dusun Noemuke. (Istimewa)

Tita, seorang warga yang lahir pada 1987 dan tumbuh di kampung tersebut, masih mengingat betul masa di mana listrik mulai menyentuh kehidupan mereka.

Saat duduk di kelas enam sekolah dasar, ia mengaku dan masih ingat saat melihat tiang-tiang listrik mulai dipasang.

"Waktu kelas 6 SD, baru ada tiang," katanya.

Kala itu, bagi Tita dan warga kampungnya, tiang-tiang tersebut seperti tanda bahwa sesuatu yang selama ini terasa jauh mulai mendekat. Listrik pun perlahan masuk dan kian menerangi rumah-rumah warga, meski belum semurna. 

Pasalnya, kampung yang berada jauh dari pusat perkotaan itu memiliki tantangan geografis yang tidak sederhana. Jalanan berbatu, hutan, sungai, hingga ancaman longsor dan pohon tumbang menjadi bagian dari keseharian. Ketika hujan turun, listrik pun kerap padam.

Cahaya yang telah hadir terkadang harus kembali menyerah terhadap alam. Malam yang semula terang bisa mendadak gelap. Warga kembali menunggu, berharap aliran listrik segera pulih. Meski begitu, pembangunan terus bergerak.

Tiang-tiang listrik bertambah. Jaringan diperluas. Penerangan semakin terasa. Kampung yang dahulu hanya mengenal cahaya dari sumbu lampu perlahan mulai terbiasa dengan sakelar di dinding rumah.

Mengantarkan Cahaya

Ilustrasi. Pemeliharaan jaringan transmisi oleh petugas PLN sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan dan kestabilan Sistem Sulbagsel. <b>(Antara)</b> Ilustrasi. Pemeliharaan jaringan transmisi oleh petugas PLN sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan dan kestabilan Sistem Sulbagsel. (Antara)

Perjalanan listrik menuju selatan Pulau Jawa, tepatnya pelosok Cianjur Selatan ternyata belum berhenti. Di sejumlah wilayah, masih ada kampung-kampung yang harus menunggu bertahun-tahun untuk menikmati aliran listrik. Salah satunya Kampung Cihalimun, Desa Mekarsari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Pada 2022, PT PLN (Persero) berhasil menghadirkan listrik untuk empat kampung terpencil di wilayah tersebut. Selain Kampung Cihalimun, listrik juga menyala di Kampung Cipetir, Kampung Cipaet, dan Kampung Cipacet.

Dua kampung pertama berada di Desa Mekarsari, sedangkan dua kampung lainnya masuk wilayah Desa Gelarpawitan.

Namun, menghadirkan listrik ke sana bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan menarik kabel dari satu tiang ke tiang berikutnya. Jaringan listrik harus menembus hutan, melintasi sungai, dan melewati jalanan berbatu di pinggir tebing.

Desa Mekarsari sendiri berjarak sekitar 160 kilometer dari pusat Kota Cianjur. Dalam kondisi normal, perjalanan menuju lokasi dapat memakan waktu hingga tujuh jam, itu pun apabila sungai dapat diseberangi.

PLN membangun jaringan tegangan menengah sepanjang sembilan kilometer sirkuit. Sebanyak 172 tiang tegangan menengah dan 165 tiang tegangan rendah didirikan untuk menghubungkan wilayah tersebut dengan jaringan listrik.

Empat gardu distribusi berkapasitas masing-masing 50 kVA juga dibangun. Pekerjaan itu menggunakan komponen dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 63 persen.

Jaringan listrik tersebut bahkan harus melintasi kawasan hutan lindung Gunung Simpang seluas 3,4 hektare. Karena itu, PLN bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Barat.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Barat, Agung Nugraha menyampaikan bahwa empat kampung tersebut berhasil terlistriki melalui sinergi berbagai pihak.

Sementara itu, Bupati Cianjur yang saat itu dijabat oleh Herman Suherman, mengungkapkan apresiasinya terhadap perjuangan PLN dan BKSDA.

“Selama hampir 77 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, baru ada listrik di desa ini. Atas perjuangan PLN dan BKSDA, kolaborasi ini saya ucapkan terima kasih,” ujarnya.

Hampir 77 tahun setelah Indonesia merdeka, cahaya akhirnya datang ke kampung itu. Bukan cahaya yang jatuh dari langit, melainkan cahaya yang dibawa melalui perjalanan panjang, kerja keras, dan kolaborasi banyak pihak.

Listrik Bukan Sekadar Lampu

Ilustrasi Petugas PLN yang sedang melakukan pemeliharaan jaringan listrik SUTT 150 kV Pratu&ndash;Bayah, Banten. <b>(PLN)</b> Ilustrasi Petugas PLN yang sedang melakukan pemeliharaan jaringan listrik SUTT 150 kV Pratu–Bayah, Banten. (PLN)

Kehadiran listrik tak berhenti pada sebuah lampu yang menyala di sudut rumah, ia justru membawa kemungkinan-kemungkinan yang baru.

Di rumah yang sebelumnya hanya memiliki lampu cempor, listrik memungkinkan keluarga menggunakan peralatan elektronik yang membantu pekerjaan sehari-hari. Anak-anak dapat belajar dengan penerangan yang lebih baik.

Warga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kegiatan produktif yang membutuhkan energi listrik. Manfaat tersebut menjadi semakin terasa ketika akses listrik tidak lagi harus bergantung pada tetangga.

Pada 2018, program sambungan listrik gratis yang melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan akses listrik kepada 14.000 rumah tangga tidak mampu di Kabupaten Cianjur.

Program tersebut melibatkan PLN, PGN, IPC, Perhutani, Pupuk Indonesia, ASDP, Askrindo, PTPN III, Dahana, dan PT PP.

Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno menyerahkan bantuan sambungan listrik secara simbolis kepada tujuh kepala keluarga di Kelurahan Sukatani, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.

Di Kecamatan Haurwangi sendiri, sebanyak 548 rumah tangga menjadi penerima sambungan listrik gratis. Tujuannya sederhana, tetapi dampaknya bisa begitu luas: memastikan masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati listrik sekaligus membuka peluang peningkatan perekonomian.

Bagi Umah, seorang warga berusia 54 tahun yang menerima bantuan tersebut, listrik resmi dari PLN mengubah cara keluarganya menjalani kehidupan sehari-hari. Selama puluhan tahun, rumahnya hanya mengandalkan sambungan listrik dari tetangga.

Untuk tiga titik lampu dan sebuah televisi kecil, Umah harus membayar sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu setiap bulan. Angka itu mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun, bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, setiap rupiah memiliki arti.

Setelah mendapatkan sambungan listrik gratis, pengeluaran Umah untuk listrik justru menjadi lebih ringan.

“Sekarang saya hanya habis 20 ribu per bulan untuk beli token listrik. Setelah dapat sambungan listrik gratis, saya bisa pakai penanak nasi listrik,” ungkap Umah.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada perubahan besar. Dari yang semula harus berbagi sambungan dengan tetangga, kini Umah dapat menggunakan listrik secara mandiri. 

Program sambungan listrik gratis tersebut juga menjangkau berbagai wilayah lain di Jawa Barat, termasuk Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Sukabumi.

Secara keseluruhan, sebanyak 100.970 rumah tangga tidak mampu di Jawa Barat telah memperoleh sambungan listrik gratis melalui program BUMN.

Listrik Semakin Andal

Ilustrasi petugas PLN saat melakukan penyambungan listrik baru. Ilustrasi petugas PLN saat melakukan penyambungan listrik baru.

Akses listrik yang kian luas tentu perlu diikuti dengan kualitas pasokan yang semakin baik. Sebab, listrik yang hanya sesekali menyala belum cukup untuk menopang kehidupan masyarakat secara optimal.

Kebutuhan listrik terus meningkat. Rumah tangga semakin bergantung pada energi untuk menjalankan berbagai aktivitas. Di sisi lain, wilayah yang jauh dari pusat sistem kelistrikan memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas tegangan dan keandalan pasokan.

Pada 2016, PLN menambah kapasitas pasokan listrik sebesar 120 Mega Volt Ampere (MVA) untuk memperkuat keandalan listrik di Cianjur dan Garut. Penambahan tersebut dilakukan melalui pemasangan masing-masing satu trafo berkapasitas 60 MVA di Gardu Induk Cianjur dan Gardu Induk Garut.

Kehadiran trafo baru memungkinkan pembagian beban listrik yang sebelumnya ditanggung oleh tiga trafo yang telah ada.

Dengan beban yang lebih terbagi, kualitas tegangan diharapkan menjadi lebih baik. Ketika salah satu trafo menjalani pemeliharaan, pasokan dapat dialihkan melalui trafo lain sehingga potensi pemadaman bisa diminimalkan.

Pada akhir Maret 2016, jumlah pelanggan listrik di Cianjur tercatat sekitar 550 ribu pelanggan. Beban listrik malam mencapai sekitar 117 megawatt (MW), sedangkan beban siang sekitar 78 MW.

Di Garut, jumlah pelanggan mencapai sekitar 539 ribu pelanggan, dengan beban malam sekitar 58 MW dan beban siang sekitar 41 MW.

Sebagian besar pelanggan di kedua wilayah tersebut merupakan pelanggan rumah tangga. Penambahan trafo menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat yang terus bertambah.

Kemudian, pada 2025, sebuah mobil besar kembali membawa trafo listrik menuju gardu di wilayah kecamatan Cianjur Selatan. Perjalanan itu menjadi bagian dari penguatan pasokan listrik agar jaringan yang telah hadir dapat memberikan layanan yang semakin andal.

Tidak Ada Lagi Cempor

Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph didampingi Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Kuala Kapuas, Saifudin (kanan) berbincang dengan salah satu warga penerima program listrik desa di desa Hingan Tokung, Kabupaten Murung Raya Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph didampingi Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Kuala Kapuas, Saifudin (kanan) berbincang dengan salah satu warga penerima program listrik desa di desa Hingan Tokung, Kabupaten Murung Raya

Kini, pada 2026, pemandangan lampu cempor perlahan menjadi bagian dari kenangan masa lalu. Di kampung yang dahulu hidup dalam gelap, lampu-lampu rumah telah menyala. Sakelar di dinding menjadi sesuatu yang biasa, cahaya yang dulu harus dijaga agar minyak tanah tidak cepat habis kini dapat hadir melalui sambungan listrik.

Bagi generasi yang tumbuh di tengah penerangan, mungkin sulit membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa listrik kala itu.