Ntvnews.id, Jakarta - Serikat pekerja Hyundai Motor Co. menggelar aksi mogok kerja selama sehari penuh pada Jumat (21/8/2026) setelah gagal mencapai kesepakatan dengan manajemen terkait persoalan upah.
Seperti dilaporkan Yonhap, aksi tersebut memicu kekhawatiran terhadap gangguan produksi yang lebih besar di tengah kondisi penjualan kendaraan yang sedang lesu.
Aksi mogok selama delapan jam ini menjadi yang pertama dilakukan serikat pekerja Hyundai Motor dalam 10 tahun terakhir.
Langkah tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan antara pekerja dan manajemen dalam perundingan upah yang telah berlangsung sejak Mei.
Akibat aksi mogok, lini produksi di pabrik Hyundai Motor yang berada di Ulsan, Jeonju, dan Asan akan dihentikan selama total 16 jam dalam dua shift kerja.
Baca Juga: Aa Juju Ungkap Pengalaman Pahit Punya Hyundai Ioniq 5, Aftersales Disebut Bikin Stres
Sekitar 39.000 anggota serikat pekerja dilaporkan ikut ambil bagian dalam aksi tersebut. Jika dihitung sejak perundingan upah dimulai pada Mei, serikat pekerja Hyundai Motor telah melakukan aksi mogok dengan total durasi mencapai 60 jam, termasuk aksi pada Jumat.
Berdasarkan sumber industri, rangkaian aksi mogok tersebut diperkirakan menyebabkan kehilangan produksi sekitar 55.200 kendaraan secara kumulatif.
Sementara itu, potensi kerugian penjualan diperkirakan telah menembus 2,3 triliun won atau sekitar US$1,64 miliar.
Gangguan produksi Hyundai Motor juga berpotensi semakin parah. Serikat pekerja berencana melanjutkan aksi mogok selama empat jam pada Senin (24/8/2026) dan Selasa (25/8/2026).
Perselisihan antara pekerja dan manajemen hingga kini belum menemukan titik temu. Sejumlah isu utama masih menjadi perdebatan, termasuk kenaikan upah, usulan kenaikan gaji berbasis kinerja sebesar 50 persen, pemulihan status anggota serikat pekerja yang dipecat karena aktivitas ilegal, serta perpanjangan usia pensiun.
Dengan aksi mogok yang terus berlanjut, Hyundai Motor menghadapi tantangan untuk menjaga kelancaran produksi sekaligus memenuhi permintaan pasar kendaraan yang sedang melemah.
Ilustrasi. Logo Hyundai. (Foto: Reuters)