Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS.
"Untuk perdagangan Senin 12 Oktober 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.890–Rp17.950,” ujar Ibrahim dalam proyeksinya dikutip, Senin 12 Oktober 2026.
Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan depan diperkirkan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Kamis Pagi Menguat ke Rp17.871 per Dolar AS
"Perdagangan dalam minggu depan direntang Rp17.780-Rp18.060," lanjutnya.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp17.899 per dolar AS.
Pada perdagangan tersebut, rupiah sempat menguat hingga 40 poin dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.915 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, Amerika Serikat (AS) terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam upaya mengakhiri konflik yang telah memasuki bulan kedelapan.
AS menjatuhkan sanksi baru yang menyasar sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.
Baca juga: Rupiah Rabu Pagi Menguat ke Rp17.866 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Cadev RI
Sementara itu, dari dalam negeri, perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menjadi perhatian.
Defisit APBN hingga akhir September 2026 tercatat mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar 0,9 persen dari PDB.
Pendapatan negara hingga September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun. Pendapatan negara tersebut tercatat tumbuh sekitar 25 persen secara tahunan (yoy).
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Realisasi belanja negara tersebut meningkat 19 persen secara tahunan.
Besarnya realisasi belanja dibandingkan pendapatan negara menyebabkan APBN mengalami defisit Rp319 triliun hingga akhir September 2026.
Ilustrasi - Pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), dengan target rampung pada 2027. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay) (Antara)