A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Majas Muhammad Qodari Menggambarkan Media Tanpa Arah di Era Digital - Ntvnews.id

Majas Muhammad Qodari Menggambarkan Media Tanpa Arah di Era Digital

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Apr 2026, 17:00
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Kepala Staf Kepresidenan M Qodari diacara forum diskusi di Nusantara TV Kepala Staf Kepresidenan M Qodari diacara forum diskusi di Nusantara TV (Dokumentasi NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah arus deras informasi digital, Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, memilih jalur majas untuk menggambarkan perubahan lanskap media yang kian kontras. Dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, ia menghadirkan analogi tajam yang memotret pergeseran dari media konvensional menuju dominasi media sosial, sebuah pergeseran yang tidak sekadar teknis, tetapi juga menyentuh cara kerja, etika, dan keseimbangan ekonomi industri pers.

Berbicara dalam diskusi bertema ‘Menjaga Kedaulatan Media Nasional di Tengah Tekanan Perjanjian Dagang Global’, Qodari menghidupkan kembali istilah lama untuk menjelaskan fenomena baru. Ia menyandingkan dua majas yang terasa kontras namun saling melengkapi.

“Dahulu ada istilah WTS, wartawan tanpa surat kabar. Nah, sekarang ini medsos itu adalah surat kabar tanpa wartawan, STW,” ujarnya, dalam acara Forum Diskusi Nusantara Media Fest 2026. 

Perumpamaan itu menjadi cermin perubahan zaman. Jika dahulu persoalannya adalah individu yang bekerja tanpa institusi, kini justru platform yang berjalan tanpa fondasi profesional jurnalistik. Media sosial, dalam gambaran tersebut, tampil sebagai ruang tanpa pagar redaksional, luas, cepat, tetapi minim kendali.

Baca Juga: Profil Muhammad Qodari “Mr Q”, Pengamat Politik yang Kini Jadi Wakil Kepala Staf Kepresidenan

Qodari kemudian menajamkan perbandingan itu melalui soal sensasionalitas. Ia mengakui bahwa media konvensional tidak asing dengan judul-judul yang menggugah perhatian. Namun, dalam lanskap yang lebih liar, media sosial bergerak jauh melampaui batas itu.

“Tidak akan mungkin (media konvensional) bisa sesensasional media sosial,” imbuhnya.

Di titik ini, majas yang ia gunakan seolah berubah menjadi kritik. Media konvensional digambarkan sebagai entitas yang berjalan dengan aturan: ada standar kompetensi wartawan, verifikasi fakta, aktualitas, hingga proses konfirmasi. Sebaliknya, media sosial menghadirkan realitas yang serba instan, di mana siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi tanpa standar yang sama.

Perubahan juga tampak pada arah arus informasi. Jika sebelumnya media sosial banyak mengutip media arus utama, kini hubungan itu berbalik. Media konvensional justru kerap menjadikan media sosial sebagai sumber awal. “Sekarang terbalik,” ucapnya.

Bahkan, ia menilai sebagian media mulai mengadopsi gaya media sosial dalam penyajiannya, sebuah pergeseran yang semakin mengaburkan batas antara keduanya.

Baca Juga: Diangkat Jadi Kepala Staf Presiden, Qodari: KSP akan Jelaskan Program-program Presiden yang Bagus

Dalam dimensi ekonomi, Qodari melihat ketimpangan yang kian nyata. Ia menggambarkan persaingan yang tidak seimbang antara perusahaan pers dengan platform digital dan apa yang ia sebut sebagai “homeless media”. Media konvensional terikat pada berbagai kewajiban: berbadan hukum, memiliki struktur redaksi, mempekerjakan wartawan profesional, hingga memenuhi kewajiban pajak. Sementara itu, di sisi lain, ada entitas yang dapat memproduksi konten tanpa beban yang sama.

Situasi ini, menurutnya, menciptakan arena yang tidak setara. Pemerintah, kata Qodari, memahami adanya ketimpangan dalam ekonomi digital yang membuat persaingan menjadi tidak adil. Dalam kerangka majas yang ia bangun, “STW” bukan sekadar istilah, melainkan simbol dari tantangan baru yang harus dihadapi industri media.

Karena itu, ia mendorong pelaku industri pers untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan ini. Diperlukan upaya bersama untuk menyusun kerangka aturan yang dapat diajukan kepada pemerintah, dengan tujuan menciptakan ekosistem media yang lebih sehat dan kompetitif.

Di ujung pernyataannya, majas yang ia lontarkan kembali menjadi penegasan: “STW ini harus dihadapi.” Sebuah kalimat singkat yang memuat pesan panjang, bahwa di tengah dunia tanpa batas, media tetap membutuhkan arah, batas, dan tanggung jawab.

x|close