Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meluncurkan Buku Pustaka Bahan Aktif (PUSAKA) serta program Bersinergi dalam Riset Inovatif Berdaya Saing Global dan Ekspansi Pasar (BRIDGE) dalam rangka peringatan Hari Jamu Nasional. Inisiatif ini bertujuan memperkuat ekosistem inovasi obat bahan alam di Indonesia.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026, bahwa peringatan Hari Jamu Nasional tidak hanya dimaknai sebagai promosi jamu sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun pola hidup sehat melalui olahraga dan pemanfaatan bahan alam.
"Pengakuan dunia terhadap jamu semakin kuat setelah United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan jamu sebagai warisan budaya tak benda. Selain itu, pengakuan internasional juga datang dari World Health Organization (WHO) yang semakin membuka ruang bagi pengembangan pengobatan tradisional berbasis bukti ilmiah," katanya.
Ia menambahkan bahwa jamu perlu dikenalkan lebih luas kepada generasi muda, mengingat tren global kembali ke bahan alami atau back to nature yang terus berkembang. Karena itu, inovasi diperlukan agar jamu dapat dikemas lebih modern dan sesuai dengan selera generasi milenial maupun generasi alfa.
Taruna menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sekitar 31 ribu spesies tanaman yang tumbuh di Nusantara, dengan ribuan di antaranya telah dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional dan produk kesehatan.
Saat ini, lanjutnya, terdapat sekitar 22 ribu nomor izin edar untuk produk obat asli Indonesia. Ia berharap jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk berbasis bahan alam.
“Ini merupakan kekayaan yang luar biasa. Kita ingin semakin banyak masyarakat yang menggemari jamu karena ini milik kita sendiri,” katanya.
Baca Juga: BPOM Gelar Pekan Jamu 2026, Dorong Jamu Indonesia Tembus Pasar Global
BPOM juga menekankan peran penting UMKM, termasuk pelaku jamu gendong, dalam memperkuat industri jamu nasional yang berpotensi berkembang melalui inovasi dan digitalisasi.
Rangkaian Hari Jamu Nasional tahun ini ditutup dengan Jamu Festival 2026 yang digelar pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan berbagai kegiatan seperti lari sehat Ginger Run 5K, parade jamu gendong, lomba meracik jamu, pertunjukan seni budaya, hingga pameran produk.
“Dengan lari, jalan, olahraga, ditambah konsumsi jamu, maka hidup akan semakin sehat. Ini adalah kekayaan Indonesia yang harus kita banggakan,” ujarnya.
Ketua Umum GP Jamu Jony Yuwono menegaskan bahwa pengembangan jamu tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga perlu diiringi revitalisasi budaya yang lebih luas.
“Saya berharap dan mengajak lebih luas lagi berbagai pihak untuk bergabung. Kita lihat para ibu jamu gendong berjuang melestarikan warisan budaya, yang tercermin dalam kostum mereka, berpakaian panjang dengan jarik. Mereka memberikan yang terbaik menjaga identitas bangsa,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa tanaman herbal memiliki potensi pengembangan lebih lanjut hingga ke sektor kosmetik, yang membutuhkan dukungan regulasi dari BPOM.
Baca Juga: BPOM Pantau 263 Ribu Tautan Penjual Kosmetik Ilegal di Platform Digital
Dalam kesempatan tersebut, BPOM juga menyerahkan Sertifikat Nomor Izin Edar (NIE) kepada sejumlah produk obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka hasil hilirisasi riset. Penerima sertifikat tersebut antara lain Mansur dari PT Ismut Fitomedika Indonesia, Raymond R. Tjandrawinata dari PT Dexa Medica, serta Jony Yuwono dari PT Sinde Budi Sentosa.
Selain itu, BPOM turut memberikan penghargaan kepada para peneliti yang berhasil mengubah hasil riset menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Penghargaan diberikan kepada Purwoko dari RSUD Dr. Moewardi, I Ketut Adnyana dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, dan Elin Yulinah dari Universitas Jenderal Achmad Yani.
(Sumber: Antara)
Peserta mengikuti rangkaian peringatan Hari Jamu Nasional di Jakarta, Minggu (7/6/2026). (ANTARA/HO - BPOM) (Antara)