Ntvnews.id, Jakarta - Pakar fengshui Yulius Fang mengungkapkan sejumlah makanan yang hampir selalu hadir di rumah masyarakat Tionghoa saat perayaan Tahun Baru Imlek. Beberapa di antaranya adalah kue nastar, kue lapis, dumpling atau pangsit, serta kue keranjang.
Menurut Yulius, setiap hidangan tersebut tidak sekadar sajian biasa, melainkan memiliki filosofi tersendiri. Misalnya kue nastar dengan isian nanas yang dipercaya melambangkan kemakmuran, keberuntungan, dan kekayaan. Dalam bahasa Hokkien, nanas dikenal dengan sebutan ‘ong lai’ yang pelafalannya menyerupai makna kemakmuran datang.
“Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” kata Yulius dikutip dari Antara, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menambahkan, kehadiran nastar berisi nanas di meja perayaan diharapkan menjadi simbol pertumbuhan hidup yang semakin baik dan penuh rezeki bagi siapa pun yang menikmatinya.
Selain nastar, kue lapis juga kerap tersaji saat Imlek. Kue ini dimaknai sebagai doa agar rezeki dan keberuntungan datang secara berlapis-lapis sepanjang tahun.
Baca Juga: Tinjau Persiapan Imlek 2026 di Bundaran HI, Rano Karno: Jakarta Menyambut dengan Serius
Yulius juga menjelaskan bahwa dumpling atau pangsit memiliki kaitan sejarah dengan perayaan Imlek di China pada masa lampau. Saat sincia atau Tahun Baru Imlek bertepatan dengan musim dingin, bahan pangan seperti sayur dan buah sulit diperoleh. Adonan tepung dan daging menjadi pilihan praktis sehingga dumpling lebih mudah dibuat dan dikonsumsi saat perayaan.
Tak ketinggalan, kue keranjang menjadi salah satu ikon Imlek yang populer sebagai hantaran bagi keluarga dan kerabat. Namun dalam tradisi tertentu, kue keranjang yang diletakkan di meja tamu tidak diperuntukkan bagi tamu yang datang berkunjung.
“Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: Perayaan Imlek Nasional 2026 jadi Momentum Perkuat Kepedulian Sosial
Ia menerangkan bahwa kue keranjang yang baru dibuat biasanya masih lembek dan lengket sehingga belum siap disajikan langsung kepada tamu. Kue tersebut umumnya dibiarkan beberapa hari hingga teksturnya lebih padat. Meski demikian, kue keranjang tetap bisa diberikan sebagai buah tangan yang melambangkan kebersamaan dan keharmonisan.
Untuk hantaran selain kue keranjang, Yulius menyebut buah seperti jeruk dan apel juga lazim diberikan saat Imlek. Selain itu, pemberian angpao juga menjadi tradisi yang umum dilakukan.
Dalam lingkup keluarga terdekat, seperti anak kepada orang tua, terdapat kebiasaan mengantarkan kue keranjang, aneka kue, atau minuman kepada orang tua maupun mertua. Tradisi ini bertujuan agar tuan rumah telah menyiapkan hidangan ketika menerima tamu, sehingga tamu yang datang tidak perlu lagi membawa makanan tambahan.
(Sumber: Antara)
Pekerja menempelkan stiker kemasan kue keranjang di rumah produksi Mini Bakery, Sangkrah, Solo, Jawa Tengah, Rabu, 11 Februari 2026. Menurut pelaku usaha permintaan kue keranjang mulai meningkat sejak awal Januari 2026 atau dua pekan menjelang Imlek, dengan produksi sebanyak 210 kilogram adonan atau sekitar tiga kuintal kue keranjang jadi yang dipasarkan ke sejumlah kota di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/rwa. (Antara)