Ntvnews.id
Dilansir dari laman Gulfnews pada Senin, 23 Februari 2026, psikolog klinis di Rumah Sakit RAK, Uni Emirat Arab, Zobia Amin, menjelaskan bahwa perubahan rutinitas harian selama Ramadhan terjadi secara mendadak dan berdampak langsung pada kondisi tubuh serta kesehatan psikologis.
"Puasa, perubahan pola tidur, peningkatan kewajiban keagamaan dan sosial, serta tanggung jawab pekerjaan yang berkelanjutan dapat secara kumulatif membebani sumber daya fisik dan psikologis," kata Zobia.
Ia menerangkan bahwa puasa dapat memicu naik turunnya kadar gula darah dan tingkat hidrasi, yang kemudian memengaruhi energi serta kemampuan berkonsentrasi.
Di sisi lain, perubahan pola tidur akibat ibadah malam serta kebiasaan bangun dini hari untuk sahur turut mengurangi kualitas dan durasi istirahat. Kondisi ini dapat berdampak pada fungsi kognitif dan kestabilan emosi.
Ketika tantangan fisik tersebut bertemu dengan tuntutan pekerjaan dan aktivitas sosial, tingkat stres bisa meningkat. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa kewalahan dalam mengelola tekanan tersebut.
Baca Juga: Burnout Ancam Produktivitas Para Pekerja, Perusahaan Disarankan Terapkan PCU
Zobia menekankan pentingnya mengenali tanda awal burnout selama Ramadhan. Gejalanya antara lain kelelahan berkepanjangan yang tidak membaik meski sudah beristirahat, perubahan suasana hati, mudah tersinggung, sulit fokus, hingga gangguan tidur. Sebagian orang juga bisa mengalami sakit kepala berulang, ketegangan otot, atau gangguan pencernaan.
Sementara itu, spesialis psikiatri di Rumah Sakit Zulekha, Dubai, Uni Emirat Arab, dr. Raga Sandhya Gandhi, menyampaikan bahwa puasa umumnya bukan satu-satunya penyebab burnout dalam konteks pekerjaan.
Menurutnya, perubahan jadwal tidur, pola makan, serta rutinitas harian turut memberikan kontribusi besar terhadap kelelahan mental. Fluktuasi kadar gula darah juga berpengaruh terhadap suasana hati, kemampuan berpikir, dan respons terhadap stres.
Raga menambahkan bahwa dehidrasi, penghentian konsumsi kafein, serta kurang tidur dapat secara terpisah memengaruhi suasana hati dan produktivitas.
"Selama Ramadhan, faktor-faktor ini sering terjadi bersamaan, berkontribusi pada peningkatan hormon stres, penurunan fungsi kognitif, dan disregulasi emosional yang menyebabkan gejala seperti kelelahan, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala, dan penurunan kewaspadaan," kata Raga.
Baca Juga: AHY Soroti Urbanisasi dan Ancaman Kesehatan Mental di Kota Besar Jakarta
Ia menjelaskan bahwa apabila gejala tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, baik dalam fungsi pribadi, sosial, maupun profesional, maka kondisi itu bisa menjadi tanda berkembangnya kelelahan emosional atau psikologis.
Raga juga mengingatkan bahwa individu dengan riwayat penyakit fisik maupun mental seperti diabetes, gangguan kecemasan, atau depresi memiliki risiko lebih tinggi. Pekerja dengan tuntutan kewaspadaan tinggi, jam kerja panjang, sistem kerja bergilir, serta mereka yang minim dukungan sosial dan emosional juga lebih rentan mengalami tekanan.
Untuk menjaga kesehatan mental, para ahli menyarankan agar individu tetap mengupayakan istirahat yang cukup, menjaga asupan nutrisi seimbang saat sahur dan berbuka, serta menetapkan ekspektasi yang realistis terhadap pekerjaan maupun kewajiban sosial.
Praktik mindfulness atau kesadaran penuh terhadap kondisi saat ini, serta teknik relaksasi, juga dinilai efektif membantu mengelola stres.
"Intervensi dini oleh profesional kesehatan mental dapat memberikan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan mencegah stres psikologis lebih lanjut karena tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental," kata Zobia.
Sejumlah pekerja berjalan sepulang kerja di kawasan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Senin 10 Oktober 2022. Berdasarkan data dari Mercer Marsh Benefits, 37 persen karyawan Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental (stres) sehari-harinya yang salah satunya terkait kondisi finansial yang lebih buruk dari sebelumnya dikarenakan ketidakpastian ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja /rwa) (Antara)