Ahli Gizi RSCM Imbau Hindari Makanan Tinggi Gula Saat Sahur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Feb 2026, 14:05
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pengunjung mengambil makanan yang disajikan saat momen berbuka puasa bersama keluarga di Restoran Trimurti, Malang, Jawa Timur, Jumat 20 Februari 2026. Tradisi berbuka puasa di luar rumah menjadi pilihan sebagian masyarakat untuk mempererat kebersamaan sekaligus menikmati waktu berkumpul setelah seharian menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU) Pengunjung mengambil makanan yang disajikan saat momen berbuka puasa bersama keluarga di Restoran Trimurti, Malang, Jawa Timur, Jumat 20 Februari 2026. Tradisi berbuka puasa di luar rumah menjadi pilihan sebagian masyarakat untuk mempererat kebersamaan sekaligus menikmati waktu berkumpul setelah seharian menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/YU) (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta – Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Luthfianti Diana Mauludiyah, SGz, RD, mengingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan makanan atau minuman tinggi gula saat sahur karena dapat memicu rasa lapar lebih cepat ketika berpuasa.

"Konsumsi gula tinggi saat sahur justru kurang dianjurkan. Makanan atau minuman manis sederhana dapat menyebabkan fluktuasi gula darah yang membuat rasa lapar muncul lebih cepat di siang hari," kata Luthfianti saat dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Jumat, 20 Februari 2026.

Baca Juga: Kendalikan Gula Darah, Awali Makan dengan Sayuran

Ia menjelaskan, menu sahur sebaiknya berfokus pada karbohidrat kompleks, protein dalam jumlah cukup, serta asupan serat.

Perpaduan ketiga zat gizi tersebut membantu tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga energi lebih stabil sepanjang hari.

Sementara itu, ketika berbuka puasa, Luthfianti menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan, sumber energi, serta konsumsi gizi seimbang.

Secara medis, menurutnya, tidak ada keharusan untuk selalu memulai berbuka dengan makanan yang tinggi gula tambahan.

"Yang dibutuhkan tubuh adalah rehidrasi (air putih), sumber energi yang cukup serta asupan zat gizi seimbang," kata dia menambahkan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Makanan Sehat untuk Penderita Diabetes, Jaga Gula Darah Tetap Stabil

Sebagai alternatif takjil, ia menyebut telur dan kurma dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

"Pilihan seperti 1–3 butir kurma atau buah utuh dapat menjadi alternatif yang lebih baik dibandingkan minuman sirup atau teh dengan gula berlebih," kata Luthfianti menjelaskan.

Ia juga menyarankan masyarakat memilih rasa manis alami dari buah dibandingkan gula tambahan. Kandungan gula alami pada buah disertai serat, sehingga membantu menjaga kestabilan kadar gula darah.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan kurang dari 10 persen total kebutuhan energi harian, bahkan lebih baik lagi jika di bawah 5 persen.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menganjurkan batas konsumsi gula maksimal 50 gram per hari atau setara kurang lebih empat sendok makan.

Konsumsi gula yang melampaui batas tersebut dalam jangka panjang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes, obesitas, hingga gangguan kesehatan gigi.

(Sumber: Antara)

x|close