Dokter: Campak Bisa Sembuh Sendiri, Tapi Waspadai Komplikasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mar 2026, 21:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Dokter spesialis penyakit dalam Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM menyampaikan penjelasan dalam acara PAPDI Forum dan Konferensi Pers bertajuk Dokter spesialis penyakit dalam Dr. dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, FINASIM menyampaikan penjelasan dalam acara PAPDI Forum dan Konferensi Pers bertajuk (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Penyakit campak pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya pada individu yang memiliki daya tahan tubuh baik. Namun, kondisi ini tetap berisiko menimbulkan komplikasi serius pada kelompok rentan, menurut dokter spesialis penyakit dalam.

"Kalau daya tahan tubuh baik, umumnya pasien bisa sembuh tanpa komplikasi,” kata Adityo Susilo dalam acara PAPDI Forum dan konferensi pers bertajuk "Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi" di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa virus campak dapat menyebar ke berbagai organ tubuh, terutama pada individu dengan sistem kekebalan yang sedang menurun, sehingga memicu komplikasi.

Kelompok yang berisiko mengalami komplikasi meliputi individu dengan kondisi malnutrisi, penderita gangguan imun seperti HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, serta ibu hamil.

Baca Juga: Waspada! Virus Campak Bisa Bertahan di Udara dan Menular Tanpa Disadari

Sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Adityo menyebutkan bahwa komplikasi yang dapat timbul akibat campak antara lain pneumonia, infeksi otak, gangguan mata seperti keratitis, hingga infeksi telinga.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun tidak bersifat teratogenik seperti rubella, infeksi campak tetap berisiko bagi ibu hamil karena dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sementara dan meningkatkan kemungkinan infeksi sekunder.

Meski demikian, ia menekankan bahwa komplikasi berat yang berujung kematian tergolong jarang, dengan angka kejadian sekitar satu dari seribu kasus infeksi.

Dalam hal penanganan, Adityo menjelaskan bahwa belum terdapat antivirus spesifik untuk mengobati campak, sehingga terapi yang diberikan berfokus pada perawatan suportif.

"Yang penting adalah terapi suportif, memastikan cairan cukup, nutrisi terpenuhi, dan pemantauan kondisi pasien," katanya.

Baca Juga: Kemenkes Terbitkan SE Kewaspadaan Campak, Tenaga Medis Diminta Perkuat Pencegahan

Ia juga menyebutkan bahwa pemberian vitamin A dapat membantu menjaga kesehatan mukosa serta mempercepat proses pemulihan pasien.

Lebih lanjut, Adityo menegaskan bahwa vaksinasi merupakan langkah paling efektif dalam mencegah infeksi sekaligus mengurangi risiko komplikasi akibat campak.

"Vaksinasi ini penting untuk membentuk daya tahan tubuh sebelum terinfeksi," katanya.

PAPDI pun menekankan pentingnya peningkatan cakupan imunisasi, termasuk bagi kelompok masyarakat yang belum mendapatkan vaksinasi secara lengkap, guna mengendalikan penyebaran penyakit campak.

(Sumber: Antara)

x|close