Kasus Diabetes Kini Banyak Serang Usia 20-an, Ahli Ingatkan Risiko Komplikasi Datang Lebih Cepat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Apr 2026, 13:33
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., (NTVNews.id: DEDI)

Ntvnews.id, Jakarta - Tren usia penderita diabetes di Indonesia kian bergeser ke kelompok yang lebih muda. Jika sebelumnya penyakit ini identik dengan usia lanjut, kini kasus mulai banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan di bawah 30 tahun. Fenomena ini menjadi sorotan dalam sebuah diskusi kesehatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi profesi, dan industri, salah satunya PT Kalbe Farma Tbk.

Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., mengungkapkan bahwa temuan kasus diabetes pada usia muda kini semakin sering terjadi. Bahkan, dalam praktiknya, pasien berusia akhir 20-an sudah mulai terdiagnosis penyakit ini.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan faktor risiko yang terus meningkat. Salah satu dampak paling serius adalah munculnya komplikasi lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Menurutnya, jika dahulu pasien yang menjalani cuci darah (hemodialisis) umumnya berada pada usia 60 hingga 70 tahun, kini kondisi serupa sudah ditemukan pada usia yang jauh lebih muda.

“Sehingga, karena kita udah mulai dapatkan diabetes pada usia yang lebih ini, sehingga dalam waktu 10 tahun, itu jadi masuk usia 30, 40 sudah dengan yang hemodialisis. Kalau dulu, yang hemodialisis itu umur 60, 70. Sekarang kita dapetin 30, 24 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga: Kasus Diabetes di Indonesia Terus Meningkat, Kalbe Dorong Penanganan Terpadu dan Deteksi Dini

Fenomena ini menunjukkan bahwa semakin dini seseorang terkena diabetes, semakin cepat pula paparan terhadap kadar gula darah tinggi yang dapat merusak organ tubuh, terutama ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan beban penyakit kronis di usia produktif.

Selain faktor gaya hidup, Em Yunir juga menyoroti peran faktor genetik. Risiko diabetes akan meningkat jika terdapat riwayat penyakit serupa dalam keluarga, terutama jika kedua orang tua mengidap diabetes. Kondisi ini dapat mempercepat munculnya penyakit pada generasi berikutnya.

Di sisi lain, rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia menyebut sebagian besar pasien belum menjalani terapi secara konsisten, sehingga pengendalian gula darah tidak optimal dan komplikasi lebih cepat terjadi.

“Pastinya 90% pasien diabetes itu semalunya dia minum obat, sehingga pengendalian gula daging jadi tidak maksimal,” ujarnya.

Dari perspektif pemerintah, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menilai peningkatan kasus diabetes, termasuk pada usia muda, berdampak signifikan terhadap sistem kesehatan nasional.

Baca Juga: Guru Besar FK UI Ungkap Diabetes Bisa ‘Sembuh’ Tanpa Obat, Kuncinya dengan Lakukan Ini

Ia menegaskan bahwa diabetes tidak hanya berdiri sebagai satu penyakit, tetapi juga menjadi pemicu berbagai komplikasi serius seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal. Kondisi ini turut berkontribusi pada meningkatnya beban pembiayaan kesehatan.

“Penanganan diabetes membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor resikonya, deteksi dini dan pengobatan. Pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan, khususnya pada aspek promotif dan preventif. Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian diabetes. Selain itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk memperluas jangkauan program. Dengan sinergi yang baik, kita dapat menekan angka prevalensi diabetes di Indonesia,” tutur dr. Nadia.

Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini, mengingat masih banyak kasus yang belum terdiagnosis sejak awal.

“Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pengendalian diabetes. Maka masyarakat perlu lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan diagnosis yang lebih cepat, intervensi dapat dilakukan lebih optimal. Hal ini juga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan harus terus dilakukan,” tambahnya.

Dengan tren yang terus mengarah ke usia lebih muda, para ahli menilai bahwa upaya pengendalian diabetes harus semakin diperkuat, terutama melalui perubahan gaya hidup, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.

x|close