Dokter Eka Hospital Ingatkan Kasus Campak Naik, Orang Dewasa Jangan Abaikan Vaksinasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Apr 2026, 17:23
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Dokter spesialis penyakit dalam, Erpryta Nurdia Tetrasiwi dari Eka Hospital Dokter spesialis penyakit dalam, Erpryta Nurdia Tetrasiwi dari Eka Hospital (NTVNews.id)

Ntvnews.id, Jakarta - Lonjakan kasus campak kembali terjadi di Indonesia dan menjadi perhatian serius tenaga kesehatan. Penyakit yang selama ini identik dengan anak-anak ternyata juga dapat menyerang orang dewasa dengan risiko komplikasi yang tidak ringan.

Dokter spesialis penyakit dalam, Erpryta Nurdia Tetrasiwi dari Eka Hospital menyebutkan bahwa tren kasus campak menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, jumlah kasus dilaporkan mencapai sekitar 16 ribu, jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang sempat terkendali.

Menurutnya, salah satu penyebab utama kenaikan ini adalah menurunnya cakupan imunisasi saat pandemi COVID-19. Pembatasan aktivitas dan kekhawatiran masyarakat membuat banyak orang menunda atau melewatkan vaksinasi. Selain itu, maraknya kampanye antivaksin turut memperburuk situasi, terutama akibat mitos lama yang mengaitkan vaksin campak dengan autisme, yang telah terbukti tidak benar secara ilmiah.

“Campak bukan hanya penyakit anak. Orang dewasa juga bisa terinfeksi, terutama jika tidak memiliki kekebalan yang cukup,” ujar dr. Erpryta.

Virus campak dikenal sangat menular melalui udara dan dapat bertahan hingga dua jam di lingkungan sekitar. Karena itu, siapa pun yang belum terlindungi berisiko tertular, terutama di tengah menurunnya herd immunity atau kekebalan kelompok. Idealnya, lebih dari 95 persen populasi harus tervaksinasi untuk mencegah penyebaran luas.

Baca Juga: Gangguan Coretax DJP, Wajib Pajak Mengeluh Sulit Akses Sistem

Pada orang dewasa, gejala campak bisa lebih berat, mulai dari demam tinggi, ruam kulit, hingga komplikasi serius seperti pneumonia dan radang otak. Bahkan, infeksi ini dapat menyebabkan “imun amnesia”, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh melemah sementara setelah sembuh, sehingga penderita lebih rentan terhadap penyakit lain.

“Banyak pasien setelah sembuh dari campak justru jadi lebih mudah sakit. Ini karena sistem imun seperti kehilangan memori perlindungannya,” jelasnya.

Untuk pencegahan, vaksinasi tetap menjadi langkah paling efektif. Orang dewasa yang tidak yakin dengan riwayat imunisasinya disarankan untuk melakukan vaksin ulang, terutama jika tinggal di lingkungan dengan risiko penularan tinggi atau berinteraksi dengan kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Meski pemeriksaan antibodi bisa dilakukan untuk memastikan kekebalan, akses dan biaya yang relatif tinggi membuat vaksinasi ulang menjadi pilihan yang lebih praktis. 

“Kalau ragu, lebih baik vaksin. Aman dan memberikan perlindungan tambahan,” tegas dr. Erpryta.

Selain vaksinasi, kesadaran untuk melakukan isolasi mandiri saat terinfeksi juga penting. Campak dapat menular sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul, sehingga penderita perlu membatasi kontak dengan orang lain.

Dengan meningkatnya kembali kasus campak, masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Perlindungan melalui vaksinasi tidak hanya penting bagi diri sendiri, tetapi juga untuk mencegah penyebaran lebih luas di komunitas.

x|close