Trump Tegaskan AS Akan Amankan Uranium Iran, Ketegangan Nuklir Memanas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Mei 2026, 18:15
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena program nuklir Iran, saat ini menghasilkan 1.000 megawatt listrik per tahun. /ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri. Arsip foto - Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, Iran. Satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di negara itu (28/4/2024). Pembangkit Bushehr merupakan salah satu fasilitas nuklir yang sering disebut-sebut dalam krisis internasional karena program nuklir Iran, saat ini menghasilkan 1.000 megawatt listrik per tahun. /ANTARA/Fatemeh Bahrami/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengamankan persediaan uranium yang diperkaya milik Iran “dengan cara apa pun”, di tengah meningkatnya ketegangan dan kebuntuan diplomatik antara kedua negara.

“Kami ingin mendapatkannya. Kami akan mengambilnya dengan cara apa pun. Kami akan mendapatkannya. Kami akan mendapatkannya atau kami akan mengambilnya. Mereka akan memberikannya kepada kami atau kami akan mengambilnya,” kata presiden AS itu di Gedung Putih, Jumat, 1 Mei 2026.

“Bahkan tidak akan sulit," tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan saat negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan, sementara upaya mencapai kesepakatan jangka panjang terkait program nuklir Iran masih terhenti, meski tenggat waktu perundingan telah diperpanjang.

Baca Juga: Trump Semprot Kanselir Jerman soal Iran, Minta Fokus Akhiri Perang Rusia-Ukraina

Sejumlah laporan juga menyebut Iran mengusulkan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis Selat Hormuz, sembari menunda pembahasan lanjutan terkait program nuklirnya ke tahap berikutnya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) Rafael Grossi menyampaikan bahwa proses verifikasi dan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran semakin sulit dilakukan akibat situasi keamanan di lapangan.

Ia menjelaskan bahwa inspeksi yang dijadwalkan terhadap fasilitas nuklir baru Iran pada 13 Juni tahun lalu tidak dapat dilakukan karena pada hari yang sama terjadi eskalasi serangan.

“Akses seharusnya dilakukan pada 13 Juni, pada hari dimulainya serangan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat inspeksi tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.

Baca Juga: Trump Bongkar Obrolan Pribadi dengan Raja Charles soal Iran, Pengamat Kerajaan Terkejut

Grossi juga menegaskan bahwa sebelum konflik meningkat, IAEA masih melakukan pemantauan ketat terhadap persediaan besar uranium yang diperkaya milik Iran.

Ketegangan terbaru ini memperlihatkan masih rapuhnya upaya diplomasi internasional dalam mengendalikan program nuklir Iran di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer di kawasan.

(Sumber: Antara)

x|close