Ntvnews.id, New York - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lima pasien berhasil pulih dari infeksi Ebola jenis Bundibugyo, salah satu varian langka virus Ebola yang saat ini menjadi fokus penanganan wabah di Republik Demokratik Kongo.
Dilansir dari Reuters, Senin, 1 Juni 2026, Kabar tersebut disampaikan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, saat melakukan kunjungan ke Kota Bunia, Provinsi Ituri, Kongo Timur, Minggu, 31 Mei 2026, Dalam kesempatan itu, Tedros turut meresmikan pusat perawatan Ebola yang baru dibangun untuk mendukung penanganan wabah.
"Empat orang akan dipulangkan hari ini dan ada satu orang yang dipulangkan dua hari yang lalu," ujar Tedros saat pembukaan pusat perawatan Ebola baru di Bunia.
Ia menegaskan bahwa meskipun hingga kini pengembangan vaksin dan pengobatan untuk Ebola Bundibugyo masih terus dilakukan, pasien yang terinfeksi tetap memiliki peluang untuk sembuh.
"Tentu saja, kami masih berupaya mengembangkan vaksin dan pengobatan, tetapi itu tidak berarti bahwa orang tidak dapat pulih dari Ebola," Tedros menambahkan.
Baca Juga: Uganda Tutup Perbatasan dengan Kongo Akibat Wabah Ebola
Sebelumnya, WHO pada Jumat, 29 Mei 2026, mengumumkan adanya satu pasien yang dinyatakan sembuh dari Ebola Bundibugyo. Saat itu, kasus tersebut tercatat sebagai pemulihan pertama yang terdokumentasi dari pasien terkonfirmasi dalam wabah yang sedang berlangsung.
Varian Bundibugyo menjadi perhatian khusus karena hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi yang telah mendapatkan persetujuan resmi untuk digunakan secara luas.
Data terbaru WHO menunjukkan wabah Ebola Bundibugyo di Kongo telah menyebabkan 906 kasus dengan 223 kematian. Sementara itu, negara tetangga Uganda juga melaporkan penyebaran penyakit tersebut dengan sembilan kasus terkonfirmasi dan satu korban meninggal dunia, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Uganda pada Jumat lalu.
Meski perkembangan positif berupa kesembuhan pasien mulai terlihat, sejumlah organisasi kemanusiaan mengingatkan bahwa penyebaran virus masih berlangsung cukup cepat. Organisasi Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas menilai respons yang ada saat ini belum mampu sepenuhnya mengimbangi laju penularan.
Dalam pernyataannya pada Sabtu, 30 Mei 2026, MSF menyebut bahwa perbaikan fasilitas kesehatan dan tambahan bantuan yang mulai berdatangan masih belum cukup untuk mengendalikan wabah secara optimal.
Petugas Palang Merah berjalan berbaris saat melakukan disinfeksi di Rumah Sakit Umum Rwampara sebelum menangani jenazah seorang korban yang meninggal akibat Ebola di Centre Medical Evangelique (CME), komune Hoho, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demok (Antara)
Karena itu, organisasi tersebut mendorong perluasan kapasitas pengujian virus, percepatan penempatan tenaga bantuan di lapangan, serta jaminan ketersediaan pasokan medis yang berkelanjutan.
Pada peresmian pusat perawatan Ebola di Bunia, Tedros kembali menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pengendalian wabah. Menurutnya, deteksi dan penanganan sejak dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
"Jika Anda datang ke fasilitas kesehatan saat mengalami gejala, Anda bisa mendapatkan dukungan dan pulih, jadi kuncinya adalah datang sedini mungkin dan mendapatkan dukungan yang diperlukan," tutur Tedros.
Ia juga menegaskan bahwa Ebola dapat dikendalikan dan pasien yang terinfeksi memiliki kesempatan untuk sembuh apabila mendapatkan penanganan yang tepat. Namun, keberhasilan tersebut memerlukan perhatian bersama serta partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat dalam mencegah penyebaran virus.
Petugas Palang Merah bersiap menangani jenazah seorang korban yang meninggal akibat Ebola di Centre Medical Evangelique (CME), komune Hoho, Bunia, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Kamis (21/5/2026). WHO menyatakan, hingga jumat, korban epid (Antara)