Mendag Saksikan Penandatanganan MoU Imbal Dagang Indonesia-Filipina Senilai Rp6,29 Triliun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jun 2026, 14:49
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan keterangan media di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh) Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan keterangan media di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh) (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta -  Menteri Perdagangan Budi Santoso menyaksikan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) skema imbal dagang tripartit antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina dengan potensi nilai transaksi mencapai 350 juta dolar AS atau sekitar Rp6,29 triliun per tahun.

Menurut Budi, mekanisme imbal dagang menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi gejolak nilai tukar yang berdampak pada perdagangan kedua negara. Melalui pola perdagangan tersebut, transaksi dapat dilakukan tanpa ketergantungan penuh pada pembayaran menggunakan dolar Amerika Serikat (AS), sehingga membantu menjaga stabilitas aktivitas perdagangan.

“Skema imbal dagang yang terstruktur dengan baik dapat menjadi instrumen perdagangan di tengah perdagangan global dan tekanan mata uang saat ini. Pemerintah berkomitmen penuh untuk memberikan bimbingan regulasi serta fasilitasi perdagangan bagi pelaku usaha Indonesia,” kata Budi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa skema tersebut juga berpotensi mendukung efisiensi penggunaan cadangan devisa di tengah kondisi ekonomi global yang masih dibayangkan. Pada kesempatan itu, ditandatangani dua MoU tripartit yang masing-masing melibatkan tiga pihak. Kesepakatan pertama mempertemukan perusahaan Filipina, Asian Pyrochem Technologies, dengan PT Trade Barter Indonesia serta Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia. Pihak ketiga sepakat melakukan pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi dengan nilai transaksi sekitar 50 juta dolar AS setiap tahun.

Sementara itu, MoU kedua melibatkan Asian Pyrochem Technologies, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading. Melalui kerja sama tersebut, dilakukan pertukaran produk baja dengan mengeluarkan besi dari Filipina guna mendukung kebutuhan produksi Krakatau Steel dengan nilai mencapai 300 juta dolar AS per tahun.

Baca Juga:  Kemendagri Apresiasi Pemda Berprestasi Jawa-Bali, Dorong Kompetisi Sehat Antar Daerah

“Kedua proyek ini menunjukkan komitmen pelaku usaha Indonesia dan Filipina untuk menghadirkan solusi perdagangan yang inovatif dan saling menguntungkan. Kami berharap kerja sama ini dapat memperkuat rantai pasok industri dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang,” ujar Budi.

Selain agenda penandatanganan MoU, delegasi Filipina juga mengikuti kegiatan business match dengan sejumlah eksportir dan produsen unggulan Indonesia. Berbagai potensi komoditas yang dikembangkan dalam pertemuan tersebut, termasuk bahan bangunan dan produk-produk unggulan lainnya yang dinilai memiliki peluang besar untuk memasuki pasar Filipina.

Baca Juga:  Mendagri Tegaskan Penilaian Apresiasi Pemda Berprestasi Dilakukan Secara Objektif dan Transparan

Hubungan perdagangan Indonesia dan Filipina sendiri menunjukkan kinerja yang positif. Pada periode Januari hingga April 2026, total perdagangan kedua negara tercatat mencapai 4,16 miliar dolar AS dengan surplus sebesar 2,93 miliar dolar AS untuk Indonesia. Nilai tersebut meningkat 12,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor Indonesia ke Filipina sepanjang periode 2021–2025 mencatat pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 1,63 persen. Sepanjang tahun 2025, total perdagangan bilateral kedua negara mencapai 12,02 miliar dolar AS, dengan surplus perdagangan Indonesia sebesar 8,42 miliar dolar AS.

(Sumber: Antara)

x|close