Menteri UMKM Akui Pelemahan Rupiah Mulai Berdampak Bagi Sebagian Pelaku UMKM

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 21:15
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menjawab pertanyaan setelah menghadiri acara Hari Kewirausahaan dan UMKM Nasional 2026 wartawan di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana) Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menjawab pertanyaan setelah menghadiri acara Hari Kewirausahaan dan UMKM Nasional 2026 wartawan di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (ANTARA/Shofi Ayudiana) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan dampak bagi sebagian pelaku UMKM, khususnya usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Menurut Maman, meskipun kondisi ekonomi nasional tetap dijaga melalui berbagai kebijakan pemerintah, fluktuasi kurs rupiah tidak dapat dipungkiri memberikan tekanan pada sektor-sektor tertentu.

"Terlepas dari apa pun, namun kita juga harus mengakui bahwa tentunya ada dampak di beberapa sektor tertentu terhadap UMKM kita," kata Maman kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Ia menjelaskan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI), guna meminimalkan dampak terhadap dunia usaha.

Salah satu sektor yang saat ini paling merasakan tekanan adalah industri pengolahan tahu dan tempe. Tingginya ketergantungan terhadap kedelai impor membuat para pelaku usaha rentan terhadap kenaikan biaya produksi ketika nilai tukar rupiah melemah.

Baca Juga: Prabowo Terima Laporan DEN, Survei MBG Tunjukkan Dampak Positif Bagi UMKM

"Sampai saat ini kalau kita lihat, yang sekarang muncul kan perajin tempe, tahu kita. Karena memang ketergantungan kita terhadap bahan baku impor kedelai memang tinggi di situ," ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Kementerian UMKM bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia terus melakukan pemantauan serta menyiapkan langkah-langkah mitigasi guna menjaga keberlangsungan usaha para pelaku UMKM.

"Yang terpenting kami pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus melakukan mitigasi untuk mencegah dan mengantisipasi dampak-dampak yang memang bisa berdampak kepada UMKM kita," kata dia.

Baca Juga: DEN Mau Survei MBG, Tiap SPPG Rerata Libatkan 3 Pemasok UMKM Lokal

Sebagai bentuk intervensi pemerintah, pada Selasa, 9 Juni 2026 diumumkan kebijakan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram yang akan disalurkan melalui Perum Bulog. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga kedelai sekaligus meringankan beban pelaku usaha tahu dan tempe di tengah pelemahan rupiah.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan bahwa pada tahap awal pemerintah akan menyalurkan subsidi untuk 250 ribu ton kedelai. Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan mekanisme teknis penyaluran subsidi masih dibahas bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, serta asosiasi pengusaha kedelai agar program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

(Sumber: Antara)

 

x|close