Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai status WHO-Listed Authority (WLA) yang diperoleh Indonesia membuka peluang lebih besar bagi ekspor kosmetik nasional karena meningkatkan kepercayaan dunia terhadap sistem pengawasan regulator di Indonesia.
Berdasarkan informasi di situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah pertama yang memperoleh status tersebut berkat komitmen memperkuat sistem pengawasan, khususnya di bidang vaksin.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan reputasi tersebut akan memberikan dampak positif terhadap industri kosmetik nasional karena di banyak negara produk kosmetik juga menjadi bagian dari evaluasi sektor obat maupun medis.
"Nah tentu reputasi ini berdampak. Pada umumnya kosmetik di berbagai belahan dunia itu masuk sebagian menjadi evaluasi obat atau medis," kata Taruna Ikrar di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.
Baca Juga: BPOM Temukan 2,1 Juta Produk Kosmetik Ilegal Bernilai Rp35,8 Miliar
Menurut Taruna, status WLA menghadirkan keuntungan berupa product reliance, yakni mekanisme yang memungkinkan produk yang telah melalui proses penilaian BPOM memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh regulator di 39 negara yang juga memiliki otoritas berstatus WHO-Listed Authority.
Ia menilai capaian tersebut akan memberikan kontribusi penting bagi perkembangan industri kosmetik Indonesia, terutama dalam memperluas akses ke pasar internasional.
Taruna juga melihat prospek ekspor kosmetik nasional semakin terbuka seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia. Ia menyebut populasi global diperkirakan mencapai 9,3 miliar jiwa pada 2045, bertambah lebih dari 1 miliar orang dibandingkan sekitar 8 miliar penduduk dunia saat ini.
Menurut dia, untuk memanfaatkan pasar tersebut, Indonesia perlu meningkatkan daya saing sekaligus membuktikan bahwa produk kosmetik dalam negeri memiliki kualitas dan manfaat yang sesuai dengan klaimnya.
Baca Juga: BPOM Temukan 14 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya, Mayoritas Produk Lokal
"Dan saya optimis produk-produk Indonesia bisa bersaing di dunia internasional karena sebetulnya bahan baku kita. Kita bisa mandiri di bidang kosmetik," katanya.
Taruna menuturkan Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok bahan baku kosmetik karena memiliki lebih dari 31 ribu jenis tumbuhan yang dapat diekstraksi, didukung kekayaan mineral serta sumber protein yang berasal dari fauna.
Ia menambahkan industri kosmetik saat ini menjadi salah satu sektor yang berkembang pesat. Berdasarkan data Lembaga Konsumen Indonesia, nilai ekonomi industri kosmetik mencapai sekitar 10 miliar dolar AS atau lebih dari Rp180 triliun setiap tahun.
"Jadi sangat besar, itu per tahun. Karena besarnya maka tentu kita berharap masyarakat pelaku usaha atau industri yang kosmetik ini bisa dibantu oleh BPOM untuk semakin berkembang, semakin tumbuh," ujarnya.
Taruna juga menyebut industri kosmetik mencatat pertumbuhan sekitar 6,7 persen setiap tahun.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar dalam wawancara bersama ANTARA di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. (Antara)