Kementerian PU Tangani 294 Titik Kekeringan Akibat El Nino

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Agu 2026, 08:10
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani 294 titik kekeringan akibat el nino di seluruh Indonesia hingga akhir Juli 2026. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani 294 titik kekeringan akibat el nino di seluruh Indonesia hingga akhir Juli 2026.

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani 294 titik kekeringan akibat el nino di seluruh Indonesia hingga akhir Juli 2026.

Penanganan dilakukan terdiri atas 180 titik kekeringan di daerah irigasi (sawah) dan 114 titik kekeringan di kawasan permukiman. Dari jumlah tersebut, 202 titik atau 68,7 persen telah selesai ditangani, sedangkan 92 titik lainnya masih dalam proses penanganan.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air irigasi, memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, sekaligus mempertahankan produktivitas pertanian nasional di tengah musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, saat ini pemerintah memfokuskan upaya penanganan pada pencarian sumber-sumber air baru, khususnya air tanah.

Baca juga: BMKG dan Kemenhut Perkuat Pencegahan Karhutla dengan Sensor Kekeringan

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan pertanian di tengah kondisi kekeringan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah sentra produksi pangan.

"Yang kita kejar sekarang adalah sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber air bawah tanah dan mengalirkannya ke sawah-sawah terdekat. Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan," kata Menteri Dody, Sabtu 1 Agustus 2026.

Dalam upaya pencarian sumber air baru tersebut, Kementerian PU bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan memanfaatkan teknologi isotop untuk menelusuri potensi sumber air bawah tanah.

Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pemanfaatan teknologi terus diperkuat dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Penanganan kekeringan di daerah irigasi menjadi prioritas utama mengingat dampaknya terhadap produktivitas pertanian. Dari 180 titik kekeringan di daerah irigasi, sebanyak 160 titik telah selesai ditangani, sedangkan 20 titik lainnya masih dalam proses penanganan.

Berbagai langkah darurat dilakukan, antara lain melalui pemompaan air dari sungai ke areal persawahan, normalisasi saluran irigasi, peninggian tanggul saluran secara darurat menggunakan sandbag, pemasangan pipa untuk meningkatkan debit air, serta pembangunan saluran irigasi tersier agar air dapat menjangkau lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan air irigasi sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga dalam mendukung swasembada pangan.

Selain itu, Kementerian PU juga bekerja sama dengan BMKG untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah kawasan bendungan sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air pada musim kemarau.

Salah satu pelaksanaan OMC telah dilakukan di Bendungan Jatiluhur pada 30 Juli 2026 bekerja sama dengan Perum Jasa Tirta II, BMKG, dan TNI AU untuk menjaga ketersediaan tampungan air bagi kebutuhan irigasi.

"Operasi Modifikasi Cuaca adalah salah satu cara kita memastikan bahwa air tetap mengalir ke sawah-sawah petani yang ada di sekitar bendungan," tegas Menteri Dody.

Baca juga: BMKG Waspadai Potensi El Nino 2026, Risiko Kekeringan dan Karhutla Meningkat

Selain sektor pertanian, Kementerian PU juga terus menangani dampak kekeringan di kawasan permukiman.

Dari 114 lokasi kekeringan permukiman, sebanyak 42 lokasi telah selesai ditangani, sementara 72 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.

Penanganan darurat dilakukan melalui distribusi bantuan air bersih menggunakan truk tangki serta dukungan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.

HIGHLIGHT

x|close