Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Kenapa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Agu 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Keputusan tersebut, menurut Trump, diambil setelah adanya kesepakatan dengan sejumlah pihak yang memuat beberapa persyaratan.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 3 Agustus 2026, Trump melalui akun Truth Social miliknya mengatakan bahwa sebelumnya AS telah bersiap melancarkan "Teror, Kekuatan, dan Kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II" terhadap Iran.

Namun, Trump menyebut Iran dan sejumlah negara lain kemudian meminta Washington menunda serangan karena "batasan kesepakatan telah disetujui".

Kesepakatan yang dimaksud mencakup "pembukaan total" Selat Hormuz serta "pengakhiran ancaman nuklir Iran".

"Amerika Serikat siap siaga dan siap menyerang Republik Islam Iran, dengan tingkat teror militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Meskipun demikian, Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya baru saja meminta kami untuk menunda serangan apa pun karena batasan kesepakatan telah disetujui," kata Trump.

Trump kemudian menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz dan penghentian ancaman terkait senjata nuklir Iran.

"Ini termasuk pembukaan segera, lengkap, dan total Selat Hormuz, dan mengakhiri ancaman nuklir Iran," ujarnya.

Trump mengatakan keputusan menunda serangan dilakukan demi masa depan Iran. Ia berharap seluruh poin dalam kesepakatan tersebut dapat segera direalisasikan.

Baca Juga: Trump Ungkap Rencana Pelucutan Senjata Hamas Disertai Penarikan Pasukan Israel

"Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan. Negara Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini. Mari bekerja, semuanya, dan selesaikan ini," ungkapnya.

Trump kemudian menutup pernyataannya dengan mengatakan:

"Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! Presiden Donald J. Trump," lanjut Trump.

Sebelum menyatakan pembatalan serangan, Trump sempat menegaskan tekad AS untuk memenangkan konflik dengan Iran. Perang tersebut bermula setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

"Kita hanya ingin menang. Kita melakukannya dengan sangat baik. Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan," kata Trump seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (1/8/2026).

Trump juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," ucap Presiden AS itu.

Dalam rapat kabinet, Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Teheran.

Bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Senin (20/4/2026) <b>(antara)</b> Bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Senin (20/4/2026) (antara)

"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," tegas Trump dalam rapat kabinet tersebut.

Pernyataan Trump sebelumnya mendapat respons dari Iran. Dilansir Al-Jazeera, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr memperingatkan bahwa Teheran akan 'memperketat' penutupan Selat Hormuz apabila AS tetap melanjutkan ancaman serta blokade laut terhadap Iran.

"Kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang rezim AS akan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz dan juga menutup selat dan titik-titik strategis lainnya," kata Zolghadr, menurut kantor berita IRNA.

Ia juga memperingatkan bahwa "ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika akan menanggung akibatnya" apabila penutupan jalur strategis tersebut terus berlangsung.

HIGHLIGHT

x|close