Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Turki menuding Israel sengaja menyebarkan informasi yang tidak benar mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan serangan terhadap pesawat Air Force One.
Dilansir dari Al Arabiya, Kamis, 13 Agustus 2026, Ankara menduga informasi tersebut sengaja dimunculkan untuk mengganggu proses perundingan antara Washington dan Teheran. Pemerintah Turki juga menilai isu tersebut dapat memengaruhi hubungan yang tengah terjalin antara Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Sekitar pukul 14.00 pada 8 Juli, sejumlah wartawan memperoleh informasi bahwa aparat keamanan Turki menambah personel secara tidak biasa di Bandara Ankara. Bandara tersebut menjadi lokasi pesawat Air Force One yang digunakan Trump selama menghadiri KTT NATO.
Saat itu, Ankara berada dalam pengamanan ketat untuk pelaksanaan KTT NATO pada 7-8 Juli. Sejumlah ruas jalan ditutup, akses trotoar dibatasi, dan pegawai negeri diberi cuti administratif selama satu pekan. Kondisi tersebut membuat aktivitas di ibu kota Turki terlihat jauh lebih sepi dari biasanya.
Pemerintah Turki juga mengalihfungsikan Pangkalan Udara Etimesgut milik Angkatan Udara Turki atau Bandara Ankara untuk mendukung pelaksanaan KTT. Langkah tersebut memungkinkan para pemimpin negara menuju lokasi pertemuan hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
Di tengah pengamanan tersebut, pejabat Amerika Serikat memberi tahu mitra mereka di Turki mengenai informasi intelijen dari Israel. Laporan tersebut menyebut adanya kemungkinan Iran berupaya menargetkan Trump.
Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa laporan intelijen itu memperingatkan kemungkinan unit operasi rahasia Iran menyasar Air Force One baru milik Trump di sekitar Bandara Ankara.
"Pihak Iran diduga dapat menargetkan pesawat tersebut dari radius satu kilometer menggunakan rudal panggul yang dikenal sebagai MANPADS," ujar salah satu sumber kepada MEE.
Baca Juga: Selat Itu Milik Kami: Trump Klaim AS Kuasai Hormuz dan Tuding Iran Bangkrut
Bandara Ankara memiliki kondisi yang berbeda dengan Bandara Esenboga. Sejumlah bangunan sipil berada di sekitar Bandara Ankara, bahkan beberapa di antaranya hanya berjarak sekitar 500 meter dari landasan pacu. Kondisi itu membuat otoritas Turki meningkatkan langkah pengamanan.
Menurut sumber-sumber tersebut, Secret Service juga meminta perlindungan tambahan bagi Trump. Lokasi keberangkatan presiden AS sempat dialihkan dari Bandara Ankara menuju Bandara Esenboga karena bangunan sipil di sekitar bandara tersebut berada lebih jauh dari perimeter.
Rencana itu kemudian diikuti keputusan untuk menggunakan kembali Air Force One lama. Pesawat tersebut disebut memiliki sistem pertahanan udara yang tidak tersedia pada pesawat Air Force One baru.
Sejumlah pejabat AS menganggap ancaman terhadap Trump cukup serius. Penilaian tersebut salah satunya didasarkan pada laporan bahwa Iran sebelumnya pernah dikaitkan dengan dua dugaan rencana serangan terhadap tokoh politik AS.
Pada Juli 2024, warga negara Pakistan Asif Merchant ditangkap karena diduga terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap sejumlah politisi Amerika Serikat yang kemungkinan mencakup Trump.
Kemudian pada November 2024, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan terhadap warga Afghanistan bernama Farhad Shakeri. Ia dituduh mendapat perintah dari pemerintah Iran untuk menyusun rencana pembunuhan terhadap Trump. Pemerintah Iran membantah pernah menargetkan Trump maupun pejabat Amerika lainnya.
Secret Service disebut menangani informasi terbaru tersebut secara serius. Menurut laporan Washington Post, Trump bahkan dipindahkan secara diam-diam setelah sempat menaiki Air Force One yang lama.
Trump kemudian disebut dipindahkan dengan cepat menggunakan kendaraan katering menuju pesawat pemerintah AS lain yang menjadi bagian dari rombongan, yakni pesawat C-32.
Seorang pejabat Turki mengonfirmasi kepada MEE bahwa pejabat AS meminta izin tambahan untuk pendaratan C-32 sebagai bagian dari pengamanan tersebut. Permintaan perubahan yang dilakukan secara mendadak itu membuat pihak Ankara menilai terdapat sesuatu yang tidak biasa.
Namun, laporan intelijen Israel tersebut muncul ketika situasi politik sedang sensitif. Pada saat itu, Trump tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam pertemuannya dengan Erdogan, Trump beberapa kali menyatakan bahwa konflik dengan Iran telah berakhir. Ia juga menunjukkan optimismenya terhadap proses perundingan, menurut sumber yang mengikuti pertemuan tersebut kepada MEE.
Sikap Trump itu dinilai berseberangan dengan kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu justru mendorong kembalinya konflik, termasuk melalui serangan yang lebih besar terhadap infrastruktur energi Iran serta operasi pembunuhan terhadap sejumlah pemimpin Iran.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)
Pejabat Turki kemudian menyampaikan dugaan bahwa laporan intelijen Israel tersebut kemungkinan merupakan strategi pemerintahan Netanyahu untuk mencitrakan Israel sebagai pihak yang melindungi Trump.
Ankara juga menilai Tel Aviv memiliki kepentingan untuk menghambat perundingan antara AS dan Iran serta mengganggu hubungan yang semakin dekat antara Trump dan Erdogan.
Sehari sebelum munculnya informasi mengenai dugaan rencana pembunuhan tersebut, Trump bertemu dengan Erdogan. Dalam pertemuan itu, Trump mengisyaratkan kemungkinan pencabutan sanksi terhadap Turki yang diberlakukan setelah Ankara membeli sistem rudal S-400 Rusia pada 2019. Trump juga membuka peluang penjualan jet tempur F-35 kepada Turki.
Netanyahu selama ini menentang rencana penjualan F-35 kepada Ankara. Menurut Israel, keputusan tersebut berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan dan mengurangi "Keunggulan Militer Kualitatif" yang dimiliki Israel.
Baca Juga: Trump Diam-diam Tinggalkan Turki dengan Pesawat Militer, Ada Apa?
Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa pihak Turki tetap memperlakukan informasi mengenai ancaman terhadap Trump secara serius, meski pada akhirnya mereka meragukan kebenaran laporan intelijen Israel.
"Tentu saja, kami menanggapi laporan itu dengan sangat serius dan berupaya membantu rekan-rekan Amerika kami semaksimal mungkin," ujar seseorang yang mengetahui masalah tersebut kepada MEE.
"Namun, bagi kami sangat jelas bahwa laporan itu sama sekali tidak benar," tuturnya lagi
Turki memang pernah menghadapi aktivitas kelompok yang disebut terkait Iran, termasuk penculikan atau pembunuhan terhadap para pembangkang Iran di wilayahnya. Namun, sumber tersebut menyatakan bahwa Teheran belum pernah melakukan operasi dengan tingkat kecanggihan tinggi di Turki yang menggunakan persenjataan selain senjata api konvensional.
Tuduhan Ankara tersebut menambah dimensi baru dalam ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, terutama ketika Washington masih berupaya membuka ruang negosiasi dengan Teheran.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)